Tentu tidak. Apakah berarti semua pertandingan yang pernah ia jalani pasti sempurna?
Juga tidak. Itu hanya berarti ada sejarah yang tidak bisa dihapus hanya karena seseorang sudah pensiun.
Begitu pula seorang mantan presiden. Ia boleh dinilai. Boleh dikritik. Boleh diperdebatkan. Tetapi tidak perlu dipaksa menjadi bukan siapa-siapa hanya agar ego politik kita merasa nyaman.
Yang lebih menarik lagi adalah fenomena ketika seseorang dari luar negeri memberikan penghormatan kepada tokoh yang kita benci, lalu kita justru sibuk mencari alasan untuk menjelaskan bahwa penghormatan itu tidak berarti apa-apa.
Xanana datang? “Ah, paling cuma silaturahmi.” Anwar menelepon? “Ah, itu hanya basa-basi.” Tokoh asing bertemu? “Ah, protokol.”
Ada yang memuji? “Ah, kepentingan politik.” Ada yang mengundang? “Ah, ada agenda tersembunyi.” Begitulah.
Kalau semua fakta yang tidak sesuai dengan kesimpulan kita selalu dianggap tidak relevan, sebenarnya kita sedang melakukan penelitian atau sedang membuat pembenaran?
Sebab kalau setiap penghormatan kepada Jokowi harus dicari-cari alasan agar tidak dianggap sebagai penghormatan, maka mungkin masalahnya bukan pada Jokowi.
Mungkin masalahnya ada pada cara kita memandang Jokowi. Kita sudah membuat kesimpulan terlebih dahulu. Setelah itu, seluruh kenyataan diminta menyesuaikan diri.
Ini cara berpikir yang berbahaya. Bukan hanya dalam politik. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian. Kita membenci seseorang. Lalu setiap keberhasilannya kita sebut keberuntungan.
Setiap pujian yang diterimanya kita sebut pencitraan. Setiap teman yang datang kepadanya kita sebut kepentingan. Setiap prestasinya kita kecilkan. Sampai akhirnya kita bukan lagi sedang menilai seseorang.
Kita sedang mempertahankan kebencian kita terhadap seseorang. Saya kira sudah waktunya kita sedikit dewasa dalam berpolitik. Jokowi bukan nabi. Bukan pula manusia tanpa kesalahan.
Ia adalah politisi dan mantan presiden. Kebijakannya layak diuji. Keputusannya layak diperdebatkan. Sejarah pemerintahannya kelak akan ditulis oleh waktu, bukan oleh para pendukungnya saja dan bukan pula oleh para pembencinya saja.
Tetapi satu hal harus kita akui dengan jujur: sepuluh tahun memimpin Indonesia adalah fakta sejarah. Dan fakta sejarah tidak menjadi batal hanya karena kita tidak menyukai orangnya.
Begitu pula penghormatan yang diterima seorang mantan presiden dari tokoh-tokoh lain tidak otomatis menjadi propaganda hanya karena kita tidak nyaman melihatnya.
Mungkin justru kita perlu bertanya: Apa yang membuat Xanana datang? Apa yang membuat Anwar menelepon?