Banten Jadi Pusat Latihan Internasional, 19 Negara Simulasikan Penanganan Bencana
Tim medis multinasional melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan korban dalam skenario penyelamatan air pada Exercise Trident Resolve 2026 di Banten, Selasa (22/9/2026)-Sgt. 1st Class Timothy Hughes-
INFORADAR.ID – Jika gempa bumi terjadi dan diikuti erupsi Gunung Anak Krakatau hingga tsunami, seberapa siap respons yang harus dilakukan? Gambaran situasi tersebut menjadi salah satu skenario dalam latihan internasional yang digelar di Banten.
Sebanyak 19 negara terlibat dalam Exercise Trident Resolve (XTR) 2026, latihan bersama yang menguji kemampuan menghadapi kondisi darurat dan bencana. Kegiatan ini berlangsung pada 20–26 September 2026 dengan melibatkan sekitar 2.200 personel militer dan unsur sipil.
Latihan tersebut merupakan bagian dari kerja sama ASEAN Defence Ministers’ Meeting-Plus (ADMM-Plus). Peserta tidak hanya menjalani latihan militer, tetapi juga melakukan simulasi pencarian dan penyelamatan, evakuasi, penanganan korban, serta pemulihan fasilitas yang terdampak bencana.
Banten dipilih sebagai salah satu lokasi latihan karena kondisi wilayahnya memiliki berbagai potensi kebencanaan. Letaknya yang berdekatan dengan Selat Sunda dan keberadaan Gunung Anak Krakatau menjadi bagian dari pertimbangan dalam penyusunan skenario latihan.
Dalam simulasi, peserta menghadapi gambaran bencana beruntun berupa gempa bumi, erupsi Gunung Anak Krakatau, dan tsunami. Skenario tersebut digunakan untuk melihat kemampuan peserta dalam merespons keadaan darurat secara cepat sekaligus menjaga koordinasi antarnegara.
Tidak hanya soal penyelamatan, latihan ini juga mencakup bidang kesehatan dan teknologi. XTR 2026 mengintegrasikan tiga kelompok kerja ADMM-Plus, yakni Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR), Military Medicine (MM), dan Cyber Security (CS).
Pada salah satu rangkaian kegiatan, tim medis multinasional melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan korban dalam skenario penyelamatan air. Dukungan medis juga diperkuat dengan keterlibatan KRI dr. Soeharso milik TNI AL dan RSS Endeavour dari Singapura.
Latihan ini turut melibatkan sejumlah lembaga sipil Indonesia, seperti BNPB, BPBD, Basarnas, dan PMI. Keterlibatan berbagai unsur tersebut bertujuan menguji pola kerja sama ketika penanganan bencana membutuhkan respons yang cepat dan terkoordinasi.
Bagi Banten, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Pengalaman tsunami Selat Sunda pada 2018 juga menjadi salah satu pengingat mengenai pentingnya sistem evakuasi, komunikasi, serta koordinasi antarlembaga.
Melalui Exercise Trident Resolve 2026, kemampuan menghadapi bencana diuji bukan hanya secara individu, tetapi melalui kerja sama lintas negara dan lintas sektor. Dari simulasi tersebut, kesiapan menghadapi kondisi darurat dapat terus dievaluasi dan diperkuat.
Mahasiswa Magang UNSERA Ghaida Fathya
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: