Laila tersenyum. “Dan malam ini… aku tidak mau berdansa dengan bayanganku saja.”
Ia meraih tanganku. Perlahan, tapi pasti.
*******Saat malam akhirnya menelan seluruh garis cakrawala, sesuatu berubah. Laut yang tadinya pucat memantulkan cahaya dari lampu balai desa yang tak seberapa terang, namun cukup untuk memberi warna keperakan pada ombak.
“Lihat,” kataku. “Warnanya kembali.”
“Sedikit,” Laila menyahut. “Tapi cukup.”
Kami berdiri, kembali berjalan menyusuri pantai menuju kampung. Tangan kami masih saling menggenggam. Tidak erat, namun cukup untuk membuat dunia yang memucat terasa hangat kembali.
Sesekali Laila menatap ke arahku, seakan memastikan aku tidak menghilang di antara kabut. Dan setiap kali aku membalas tatapannya, ia tersenyum seperti seseorang yang baru saja pulang dari perjalanan yang sangat panjang, dan akhirnya tahu ke mana harus kembali.
“Terima kasih,” katanya lirih. “Sudah menunggu dunia memucat bersamaku.”
“Aku tidak menunggu,” jawabku. “Aku hanya tetap di tempat yang sama.”
“Dan itu membuatku pulang.”
Kami berhenti di depan warung kopi tua itu—lampunya masih sama redup, kipas anginnya masih berdecit, seolah waktu sengaja menahan napas di tempat ini.
“Besok pagi,” kata Laila, “aku ingin melihat matahari terbit dari pantai ini.”
“Kau ingin aku menemanimu?” tanyaku.
Ia tersenyum. “Kali ini… aku tidak bertanya apakah kau ingin. Aku ingin.”
Dan entah mengapa, malam yang kelabu itu mendadak terasa penuh warna yang tak bisa dijelaskan. Bukan warna terang yang mencolok, melainkan warna lembut yang tumbuh pelan, seperti hati yang belajar mencintai kembali.
Di antara lampu redup, suara ombak, dan aroma kopi yang terlalu pahit, aku menyadari bahwa dunia yang memucat ini mulai mendapatkan cahayanya kembali.