Ia mengangguk. “Di sini.”
Di antara suara ombak dan adzan yang bergetar, kami saling menatap tanpa terburu-buru. Dunia serasa berhenti di ambang warna yang memudar.
*******Kami kembali berjalan, lebih pelan dari sebelumnya. Malam turun dengan langkah seperti kapas basah, hampir tak terdengar, tapi terasa di kulit. Cahaya lampu perahu memantul di air, memecah menjadi garis-garis putih yang bergetar.
“Waktu kecil,” Laila berkata, “Ayah sering mengajakku ke pantai ini. Ia bilang laut mengajari kita dua hal: bagaimana pergi dan bagaimana kembali.”
Aku menatapnya. “Dan kau sudah merasakan keduanya.”
Ia tertawa pelan. “Kadang aku merasa lebih banyak pergi daripada kembali.”
“Kau kembali malam ini.”
“Ya,” ia mengangguk. “Dan anehnya… aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut menemukan sesuatu yang sudah lama kucari… lalu kehilangannya lagi.”
Aku menarik napas. “Kalau kau menemukannya, jaga agar tidak hilang.”
Ia berhenti. “Dan jika yang kutemukan itu… adalah kau?”
Aku membeku sesaat. Laila jarang berbicara sejujur ini. Biasanya kalimatnya berputar-putar seperti angin yang tak mau diam.
Aku mendekat. “Laila… aku sudah di sini sejak dulu.”
Ia menunduk, lalu tertawa seperti seseorang yang baru sadar akan hal yang seharusnya sederhana.
“Ya,” katanya pelan. “Dan itu justru membuatku lebih takut.”