Cinta yang Bertahan Saat Segala Memucat

Rabu 02-09-2026,09:39 WIB
Reporter : Haidaroh
Editor : Haidaroh

“Tapi kau kembali juga.”

“Karena aku lelah memudar.”

Angin mengangkat sebagian rambutnya. Tanpa berpikir panjang, aku merapikannya dari pipinya. Tangannya menyentuh tanganku, ringan, namun membuat jantungku seakan roboh pelan.

“Jika aku menetap,” katanya, “apakah warnaku akan kembali?”

“Jika tidak,” jawabku, “kita cari bersama.”

Laila menatapku lama. Mata itu, yang dulu menyala seperti pagi, kini lebih redup, tiba-tiba memantulkan cahaya malam yang tenang.

Ia tersenyum. “Kau bicara seperti seseorang yang tahu cara memperbaiki dunia.”

“Tidak,” kataku. “Tapi aku tahu cara menjaga seseorang.”

*******

Kami duduk di pasir. Ombak datang dan pergi dengan cara yang sama seperti kenangan, ada yang membawa sesuatu, ada yang mengambil tanpa permisi. Langit memucat total kini, menyisakan garis samar bintang-bintang yang mulai muncul.

“Kau tahu,” kata Laila, “aku selalu merasa hidupku seperti lagu itu.”

“Lagu yang dari tadi dilatih di balai desa?” godaku.

Ia terkekeh. “Bukan. Lagu lama yang kau putar dulu di warung kopi itu… yang liriknya tidak sepenuhnya bisa kita terjemahkan.”

“Yang melodinya seperti berjalan di kabut?”

“Ya. Lagu itu.”

Ia menatap kosong ke laut. “Setiap kali mendengarnya, aku merasa seperti sedang berdansa dengan bayanganku sendiri. Indah, tapi juga menakutkan.”

Aku mengangguk. “Karena bayangan tahu terlalu banyak.”

Kategori :