INFORADAR.ID — Pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin menuju ke arah yang positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional pada triwulan II 2026 sudah tumbuh di angka 5,29 persen secara tahunan year-on-year (yoy). Angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian ekspansif di tengah gejolak ekonomi global.
Secara kuartalan, ekonomi Indonesia juga tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Sementara itu, sepanjang semester I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,45 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi secara tahunan terjadi pada sektor pengadaan listrik dan gas yang mencapai 10,81 persen.
Namun, dengan bertumbuhnya Produk Domestik Bruto (PDB) tidak otomatis bisa langsung dirasakan masyarakat rasakan dampaknya dalam peningkatan kesejahteraan. PDB mengukur aktivitas ekonomi secara agregat, sedangkan kondisi masyarakat juga dipengaruhi pendapatan, kesempatan kerja, harga pokok, serta kemampuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
BACA JUGA:AI Makin Masuk Dunia Kerja, Fresh Graduate Harus Takut atau Justru Beradaptasi?
Data BPS menunjukkan konsumsi pemerintah menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi pada triwulan II 2026, yakni 15,97 persen yoy. Kondisi ini menunjukkan belanja pemerintah turut menjadi salah satu penggerak ekonomi pada periode tersebut.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga harus menjadi indikator penting dalam mengukur apakah aktivitas ekonomi mulai terasa di masyarakat. Ketika pendapatan mulai meningkat dan harga barang pokok relatif terkendali, masyarakat biasanya memiliki ruang lebih besar dalam meningkatkan belanja kebutuhan barang lainnya seperti konsumsi non pokok.
Karena itu, pertumbuhan 5,29 persen perlu dibaca bersama indikator kesejahteraan lainnya. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga perlu memastikan pertumbuhan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, menjaga daya beli, dan menjangkau kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
BACA JUGA:Erling Haaland Tampil dengan Rambut Cepak, Tapi Ada Satu Rekor yang Terhenti di Debut Premier League
Dengan demikian, adanya pertumbuhan ekonomi 5,29 persen merupakan kabar baik, tetapi belum bisa menjadi satu-satunya bahan ukur kesejahteraan. Tantangan selanjutnya adalah dapat memastikan pertumbuhan tersebut bisa benar-benar diterjemahkan sebagai pendapatan yang lebih baik, pekerjaan lebih banyak, serta daya beli semakin kuat bagi masyarakat.