Sebuah percikan kecil hasil unggahan ceroboh atau kutipan yang dipotong ini dapat dengan sangat cepat tereskalasi menjadi demonstrasi nasional berjilid-jilid yang secara nyata mengancam disintegrasi bangsa.
Reaksi publik yang luar biasa masif ini terjadi karena serangan yang dirasakan tidak menargetkan aspek fisik atau kerugian material.
Melainkan menghujam langsung ke jantung eksistensi, martabat, dan nilai ontologis dari kelompok yang meyakininya.
Kemarahan yang timbul bukanlah luapan emosi sesaat belaka, melainkan reaksi atas ancaman terhadap pandangan dunia mereka.
Di titik eskalasi ini, masyarakat benar-benar merasa terancam secara emosional dan spiritual.
Untuk mengatasi krisis komunal yang emosional semacam ini, sekadar melempar rilis pers formal jelas tidak akan cukup.
Kita membutuhkan sebuah model komunikasi krisis yang santun, cerdas, dan mencerahkan.
Langkah pertama yang sangat krusial adalah menurunkan ketidakpastian dengan memberikan informasi yang cepat, akurat, konsisten, dan transparan.
Kronologi faktual harus segera dijelaskan untuk memotong rantai hoaks.
Selain itu, kecemasan publik perlu diredam lewat penggunaan kalimat-kalimat empatik yang memvalidasi perasaan luka umat beragama, serta melibatkan tokoh kredibel untuk memberikan pesan penyejuk.
Di sisi lain, pengelola krisis juga harus secara aktif melobi pimpinan redaksi untuk mendekonstruksi bingkai media, menghentikan glorifikasi polemik, dan mulai menonjolkan narasi rekonsiliasi.
Pada akhirnya, tugas kita semua khususnya para mahasiswa dan praktisi komunikasi bukan sekadar meracik pesan.
Melainkan bertransformasi menjadi agen perdamaian terdepan yang mampu mencegah eskalasi konflik di masyarakat.
Penulis: Zaudan Rasyid Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten