Catatan dari Den Haag: Mengamati Dua Wajah Ruang Publik antara Belanda dan Indonesia
suasana pagi di Den Haag-Tori-
INFORADAR.ID- Bulan April lalu, saya mendapat kesempatan berharga untuk pergi ke Belanda dalam rangka acara keluarga. Ini merupakan pengalaman pertama ke luar negeri.
Ketika sebagian besar orang biasanya memilih negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia untuk destinasi pertama, saya langsung berkesempatan terbang jauh ke Eropa.
Perjalanan panjang ini dimulai dari Jakarta, transit sebentar di Istanbul, hingga akhirnya mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Lewat tulisan ini, saya ingin membagikan pengalaman komunikasi saya di Belanda.
Saat berjalan-jalan di pusat Kota Den Haag, perhatian saya tertuju pada sebuah gereja tua megah yang kini sudah berubah total menjadi gedung konser dan tempat hiburan.
BACA JUGA:Hidden Gem Anyer! Bukan Pantai, Granada Riverside Resort Tawarkan Camping Estetik di Pinggir Sungai
BACA JUGA:Paddle Board dan Snorkeling di Carita Viral di Kalangan Gen Z, Tidak Perlu Nyebrang Pulau
Jika melihatnya dari teori simbol Clifford Geertz, alih fungsi ini menunjukkan pergeseran cara pandang masyarakat dari nilai keagamaan yang sakral menuju hiburan modern.
Hal tersebut ternyata ikut memengaruhi cara berkomunikasi warganya, karena urusan agama di sana dianggap sebagai hal yang sepenuhnya pribadi.
Makanya, kita hampir tidak akan mendengar sapaan keagamaan seperti Assalamualaikum atau Shalom karena interaksi sehari-hari mereka berjalan praktis. Menurut sosiolog Ridwan Lubis, kondisi ini adalah ciri masyarakat sekuler, di mana agama tidak lagi mengatur perilaku sosial di ruang publik.
Sebaliknya, ruang publik di Indonesia tidak memisahkan sopan santun dari identitas agama sehingga nilai-nilai spiritual selalu hidup dalam obrolan harian.
BACA JUGA:Viral Kampung Mongol di Banten, Wisata Ala Mongolia Ini Cuma 2,5 Jam dari Jakarta
BACA JUGA:Menghidupkan Memori Drama: 4 Destinasi Hanok Ikonik di Seoul yang Wajib Dikunjungi
Uniknya, sapaan religius di negara kita justru menjadi perekat sosial yang sangat ramah dan terbuka bagi siapa saja tanpa memandang perbedaan. Cendekiawan M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Islam sangat mendukung sikap terbuka dan inklusif seperti ini.
Bahkan, ulama terdahulu seperti Ibnu Abbas membolehkan ucapan salam kepada siapa saja demi menjaga kehormatan sesama manusia. Maka dari itu, berkomunikasi di Indonesia bukan sekadar bertukar informasi seperti di Barat, melainkan sarana untuk saling mendoakan dan mempererat kebersamaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: