Ketika Hijrah Jadi Tren: Antara Transformasi Spiritual dan Budaya Populer Digital

Ketika Hijrah Jadi Tren: Antara Transformasi Spiritual dan Budaya Populer Digital

trend hijrah-ss tiktok-

INFORADAR.ID- Beberapa tahun terakhir, kata hijrah menjadi salah satu istilah yang paling sering lalu lalang di linimasa media sosial. Di platform seperti TikTok, Instagram, hingga X, konten bertagar Hijrah telah ditonton jutaan kali.

Isinya beraneka ragam, menampilkan cerita transformasi diri, mulai dari perubahan gaya berpakaian, lingkungan pergaulan, hingga kebiasaan sehari-hari.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa hijrah kini bukan lagi sekadar topik bahasan eksklusif di ruang-ruang pengajian, melainkan sudah melebur menjadi bagian dari budaya populer digital yang lekat dengan keseharian generasi muda.

Tren ini paling jelas terlihat dari maraknya video transformasi sebelum dan sesudah hijrah. Di satu sisi, konten semacam ini sangat positif karena memberikan ruang bagi anak muda untuk saling menginspirasi dan mendukung dalam proses memperbaiki diri.

BACA JUGA:Polemik Ruben Onsu dan Sarwendah Memanas, Komentar Sejumlah Figur Publik Ikut Jadi Sorotan

BACA JUGA:Omara Esteghlal Soroti Lagu Viral di Media Sosial, Ingatkan Publik Tak Mudah Terbawa Narasi

Namun di sisi lain, ekosistem media sosial memiliki karakter yang tanpa sadar memaksa sebuah pesan menjadi disederhanakan.

Algoritma lebih menyukai sesuatu yang singkat, visual, dan memancing emosi. Dampaknya, konsep hijrah yang sebenarnya kompleks sering kali menyempit menjadi sekadar perubahan penampilan luar atau atribut pakaian semata, padahal esensi hijrah mencakup perubahan perilaku, pola pikir, hingga kualitas spiritual yang jauh lebih mendalam.

Sosiolog Clifford Geertz pernah menyebutkan bahwa makna sebuah simbol sangat bergantung pada konteks sosial tempat simbol itu hidup. Dalam ruang digital, konteks ini sering kali menguap begitu saja karena komunikasi berlangsung sangat cepat dan terbatas pada layar ponsel.

Akibatnya, pemahaman tentang hijrah bisa menjadi sangat beragam dan rentan memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian orang melihatnya sebagai proses personal, sementara yang lain menjadikannya identitas sosial.

BACA JUGA:Viral Lagu Parodi Bahlil di TikTok, Plesetan Nama Bank Nasional Tembus Jutaan Views

BACA JUGA:Omara Esteghlal Soroti Lagu Viral di Media Sosial, Ingatkan Publik Tak Mudah Terbawa Narasi

Ruang digital yang seharusnya menjadi tempat berbagi cerita inspiratif, terkadang berubah menjadi arena saling menghakimi proses spiritual seseorang.

Generasi muda yang tumbuh di era media baru juga menjadikan platform digital sebagai panggung utama untuk membentuk identitas. Ketika seseorang mengunggah perjalanan hijrahnya ke ranah publik, ia tidak sekadar membagikan pengalaman, tetapi juga sedang membangun citra di hadapan penonton digitalnya.

Di titik inilah batas antara perjalanan spiritual yang murni dan kebutuhan akan pengakuan sosial menjadi sangat kabur. Belum lagi adanya logika algoritma media sosial yang menuntut tingkat interaksi tinggi, sehingga mendorong sebagian orang untuk mengemas tema hijrah secara lebih dramatis agar mudah memancing perhatian publik.

Meski maknanya kerap mengalami pergeseran menjadi sekadar narasi visual, tren hijrah digital ini tetap membawa dampak positif yang tidak bisa diabaikan. Kehadiran konten-konten dakwah ringan ini sukses menjadi pintu masuk yang ramah bagi banyak orang yang tadinya merasa berjarak dengan agama. Tantangan terbesar saat ini sebenarnya terletak pada kemampuan literasi kita.

Publik dituntut untuk tidak hanya terampil menggunakan teknologi, tetapi juga kritis membaca makna di balik sebuah tren keagamaan. Hijrah telah bertransformasi menjadi fenomena sosial dan komunikasi, sehingga tugas bersama saat ini adalah menjaga agar kedalaman maknanya tidak hilang ditelan arus budaya digital yang serba instan.

Penulis: M Fazri Gustiansyah Mahasasiswa UIN Sultan Maualana Hasanudin Banten

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: