Jari Lentik Berujung Konflik: Bahaya Clickbait pada Isu Agama di Era Digital

Jari Lentik Berujung Konflik: Bahaya Clickbait pada Isu Agama di Era Digital

Click bait-ROBA-

INFORADAR.ID- Mengamati dinamika media sosial saat ini sering kali membuat kita yang sedang mempelajari Ilmu Komunikasi mengurut dada.

Di lanskap masyarakat komunal kita, isu penodaan agama di media massa adalah salah satu bentuk krisis komunikasi yang eskalasinya paling cepat dan merusak.

Sebagai mahasiswa yang rutin membedah fenomena media, ada satu permasalahan utama yang paling terasa relevan dengan keseharian kita di era digital ini, yaitu obsesi media massa terhadap viralitas yang kerap mengorbankan konteks kebenaran.

Secara ideal, media massa seharusnya menjadi jendela informasi dan pembentuk realitas yang objektif.

BACA JUGA:Polemik Ruben Onsu dan Sarwendah Memanas, Komentar Sejumlah Figur Publik Ikut Jadi Sorotan

BACA JUGA:Omara Esteghlal Soroti Lagu Viral di Media Sosial, Ingatkan Publik Tak Mudah Terbawa Narasi

Sayangnya, realitas industri justru menunjukkan bahwa logika komersial lebih sering mengambil alih.

Demi mengejar metrik keterbacaan, media kerap mengeksploitasi aspek emosional dari isu keagamaan melalui pembingkaian pemberitaan yang sensasional.

Penggunaan judul umpan klik, dan penyederhanaan masalah yang menghilangkan konteks aslinya.

Dalam penanganan isu-isu sensitif terkait teologi ini, media sering kehilangan fungsi edukasinya dan malah terjebak dalam jurnalisme provokatif yang sekadar memburu jumlah klik.

Krisis komunal sering kali diarsiteki melalui proses pembingkaian ini, di mana elemen kontroversial ditonjolkan sementara elemen konteks utuh justru dihilangkan.

Sebagai contoh nyata dari praktik ini, bayangkan saja ada seorang akademisi yang sedang memberikan kritik filosofis mengenai sejarah interpretasi teks suci dalam sebuah forum diskusi berdurasi dua jam.

Media massa yang mengejar viralitas mungkin hanya memotong satu klip berdurasi 15 detik saat akademisi tersebut mengucapkan kata "teks usang".

Berita itu kemudian dirilis dengan judul kapital yang provokatif, seolah-olah akademisi tersebut menyebut kitab suci sudah usang dan menghina agama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: