Memang biaya awal tinggi, tetapi manfaat jangka panjang, dari sisi estetika, keselamatan, hingga daya tarik investasi, jauh lebih besar.
Kedua, Kebijakan Satu Tiang dan Audit Kabel, untuk kota yang belum mampu membangun utilitas bawah tanah, solusi antara adalah kebijakan “satu tiang bersama” dan audit berkala kabel. Pemerintah daerah harus: Mewajibkan operator berbagi infrastruktur; Menginventarisasi kabel aktif dan non-aktif; Menjatuhkan sanksi tegas bagi perusahaan yang membiarkan kabel terbengkalai.
Transparansi kepemilikan kabel penting agar tanggung jawab jelas.
Ketiga, Reformasi Tata Kelola Reklame, penataan reklame memerlukan revisi regulasi berbasis tata ruang visual: Pembatasan jumlah dan ukuran baliho di kawasan tertentu; Zona bebas reklame di area heritage, sekolah, dan fasilitas publik; Standar konstruksi dan keamanan yang ketat; Digitalisasi perizinan agar lebih transparan.
Pendapatan daerah tidak harus dikorbankan; yang dibutuhkan adalah pengaturan yang selektif dan berorientasi kualitas, bukan kuantitas.
Keempat, Partisipasi Publik dan Edukasi Visual, warga perlu dilibatkan melalui kanal pengaduan digital untuk melaporkan kabel semrawut atau reklame berbahaya. Selain itu, kampanye kesadaran tentang pentingnya estetika kota perlu digalakkan. Kota bukan hanya milik pemerintah atau pelaku usaha, melainkan milik bersama.
Kelima, Kepemimpinan Kepala Daerah, kunci perubahan terletak pada komitmen kepala daerah. Tanpa keberanian politik, penertiban akan selalu kalah oleh lobi ekonomi. Kepala daerah perlu melihat wajah kota sebagai cerminan kepemimpinan. Kota yang tertib dan indah adalah warisan yang melampaui masa jabatan.
Menuju Kota yang Bermartabat
Semrawutnya kabel dan menjamurnya baliho adalah cermin transisi kota-kota Indonesia yang tumbuh cepat tanpa diimbangi tata kelola yang rapi. Namun, ini bukan takdir. Dengan perencanaan matang, regulasi tegas, dan komitmen bersama, langit kota bisa kembali lapang; sudut-sudut jalan bisa kembali enak dipandang.
Kota yang indah bukan sekadar kota yang bersih dari sampah, tetapi juga bersih dari kekacauan visual. Di situlah martabat kota dipertaruhkan. Ketika kabel tersusun rapi atau tersembunyi di bawah tanah, ketika reklame hadir proporsional dan aman, kita tidak hanya memperbaiki pemandangan kita sedang membangun peradaban ruang.