Oleh: Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
Refleksi Moral atas Kasus Denada Tambunan dan Ressa Rossano, berangkat dari Lirik “Too Young to Be Married” terlalu muda untuk menikah The Hollies.
Balada Too Young to Be Married (1970) dari The Hollies bukanlah lagu cinta dalam pengertian populer. Ia tidak merayakan perjumpaan dua insan, melainkan mengisahkan kelelahan emosional akibat keputusan yang diambil terlalu dini.
Lagu ini berbicara dengan nada lirih namun tegas tentang pasangan muda yang terperangkap oleh ekspektasi sosial, lalu menyadari bahwa cinta tanpa kematangan justru melahirkan penyesalan. Di titik inilah lagu tersebut melampaui zamannya: ia menjadi peringatan lintas generasi tentang risiko komitmen yang lahir bukan dari kedewasaan, melainkan dari tekanan.
Tema ini relevan ketika kita menempatkannya sebagai lensa reflektif untuk membaca kasus yang menyeruak ke ruang publik: perselisihan antara Denada Tambunan dan Ressa Rossano terkait status seorang anak. Terlepas dari aspek hukum yang masih menjadi ranah pengadilan dan kebenaran faktual yang hanya dapat diputuskan secara sah, kasus ini membuka ruang refleksi sosial yang lebih luas: tentang relasi dewasa, tanggung jawab moral, dan posisi anak yang kerap terjepit di antara ego orang tua dan sorotan publik.
Pernikahan Dini, Relasi Dini, dan Ilusi Kedewasaan
Lagu Too Young to Be Married berbicara tentang pernikahan, tetapi substansinya lebih luas: relasi yang dibangun sebelum kematangan psikologis tercapai. Dalam konteks modern, ini tidak selalu berarti pernikahan dini secara usia, melainkan relasi yang dijalani tanpa kesiapan emosional, sosial, dan etis.
Relasi antara Denada dan Ressa, apa pun bentuk dan statusnya di masa lalu, tampaknya (sebagaimana banyak relasi publik lainnya) memperlihatkan satu pola klasik: kedekatan personal yang tidak diiringi kesepakatan tanggung jawab jangka panjang yang jelas. Ketika relasi tersebut kemudian melahirkan persoalan tentang anak, publik baru menyadari bahwa yang disebut “urusan pribadi” sesungguhnya memiliki konsekuensi sosial dan moral yang luas.
The Hollies mengingatkan kita: You were too young to be married, too young to settle down
Kematangan bukan sekadar angka usia, tetapi kemampuan untuk memikirkan dampak keputusan hari ini terhadap kehidupan orang lain di masa depan—terutama anak.
Anak sebagai Subjek Moral, Bukan Objek Sengketa
Dalam setiap konflik orang dewasa, anak sering kali menjadi korban sunyi. Ia tidak memiliki suara, tetapi hidupnya dibentuk oleh keputusan dan pertikaian orang tua. Dalam lagu The Hollies, penyesalan muncul ketika pasangan menyadari bahwa hidup mereka “berakhir sebelum dimulai.” Namun dalam kasus nyata, yang paling berisiko kehilangan masa depan justru anak yang tidak pernah memilih untuk dilahirkan dalam situasi konflik.
Esai ini tidak dimaksudkan untuk menilai siapa benar atau salah dalam klaim biologis maupun legal. Namun secara etis, satu hal jelas: anak tidak boleh direduksi menjadi alat legitimasi, pembelaan diri, atau pembuktian ego. Ketika persoalan ayah biologis, hak nafkah, atau pengakuan dipertontonkan di ruang publik, yang sering terlupakan adalah hak anak atas martabat, privasi, dan rasa aman.
Lirik Too Young to Be Married menghadirkan kebosanan dan kehampaan sebagai akibat dari keputusan impulsif. Dalam dunia nyata, kehampaan itu bisa menjelma trauma antargenerasi jika konflik orang tua tidak dikelola dengan kedewasaan.