Ketiga, sekolah kehilangan relevansi sosial. Sekolah yang menutup diri dari teknologi akan semakin terasa asing bagi kehidupan nyata siswa, sehingga pendidikan kehilangan daya tarik dan makna kontekstual.
Alternatif Kebijakan yang Lebih Mendidik
Daripada menerapkan pelarangan, kebijakan yang lebih konstruktif seharusnya berfokus pada pengelolaan, bukan penghapusan teknologi.
Beberapa alternatif yang dapat diterapkan antara lain:
1. Zona waktu penggunaan ponsel, misalnya hanya saat pembelajaran tertentu.
2. Integrasi ponsel ke dalam metode pembelajaran, seperti kuis digital, pencarian sumber, atau proyek multimedia.
3. Pendidikan literasi digital, mencakup etika bermedia, keamanan siber, dan manajemen waktu.
4. Pelatihan guru berbasis teknologi, agar guru mampu mengubah ponsel dari distraksi menjadi alat pedagogis.
Pendekatan ini tidak hanya menjaga ketertiban kelas, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan hidup di masyarakat digital.
Pada akhirnya, kebijakan pembatasan ponsel di sekolah mencerminkan dilema klasik dunia pendidikan: memilih antara mengontrol realitas atau mendidik menghadapi realitas. Pelarangan mungkin menciptakan kelas yang lebih sunyi, tetapi belum tentu menghasilkan siswa yang lebih cerdas, kritis, dan siap menghadapi masa depan.
Pendidikan seharusnya tidak mengajarkan ketakutan terhadap teknologi, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara bijak dengan teknologi. Karena tugas utama sekolah bukan menjauhkan siswa dari dunia nyata, tetapi mempersiapkan mereka untuk menaklukkannya.