Padahal, menurutnya, ketidakjelasan justru sering lebih melelahkan dibanding hubungan yang pasti.
Dalam hal kecemburuan, Marifatus menegaskan bahwa perasaan tersebut wajar, meski tidak memiliki status resmi.
“Cemburu itu wajar banget. Perasaan gak bisa disuruh patuh sama status. Tapi karena gak ada kejelasan, kita ngerasa gak punya hak buat protes, dan itu yang bikin hati makin capek,” ungkapnya.
Ia menyarankan agar mahasiswa mulai sadar batas, mengurangi ekspektasi, dan berani berhenti ketika hubungan terasa menguras diri.
Menurutnya, waktu yang tepat untuk berkata cukup adalah saat rasa lelah lebih dominan dibanding bahagia.
“Kamu butuh kejelasan, bukan sekadar ‘jalanin aja dulu’. Jangan cinta sendirian,” tutup Marifatus.
Hal senada disampaikan Pitaloka, yang melihat situationship sebagai kondisi yang tampak nyaman, tetapi berpotensi menjadi masalah emosional.
“Menurutku bisa jadi penyakit, karena terlalu nyaman tapi bikin overthinking,” ujarnya.
BACA JUGA:Trend TikTok “At Least” Viral, Jadi Game Sindir-sindiran Usai Ramainya Tren “Izin”
BACA JUGA:Kontroversi Azkiave: Narasi Kuliah Scam, Nikah Muda, dan Komunitas Jeda Sekolah Picu Polemik
Pitaloka menjelaskan bahwa alasan utama menjalani hubungan tanpa status adalah keinginan untuk bebas dari komitmen serta rasa takut akan kegagalan dan kehilangan.
Ia mengakui bahwa kecemburuan tetap muncul, meski secara status tidak memiliki hak untuk menuntut.
“Biasanya sih Pengen bebas, gak mau ribet komitmen trus Takut sakit hati, takut gagal, takut ditinggal. Secara perasaan, wajar cemburu.Tapi secara status kita gak punya hak nuntut," katanya.
Pitaloka juga menyoroti dampak situationship terhadap kehidupan akademik. Ia melihat banyak orang terdekatnya terganggu secara mental hingga akademik akibat overthinking berlebihan.
“Ujung-ujungnya tugas numpuk karena kepikiran dia terus,” ujarnya.
Menurutnya, batas akhir hubungan tanpa status adalah ketika perasaan sedih lebih sering muncul, mengganggu fokus kuliah, dan kesehatan mental.