Blak-blakan Soal Diet! Nikita Willy Kupas Mitos dan Fakta, Dokter Gizi Bongkar Mitos Seputar Diet
Ilustrasi gym-freepik-
INFORADAR.ID – Nikita Willy membahas tuntas soal diet dan olahraga bersama dokter spesialis gizi klinik, dr. Diana F Suganda, M.Kes, SpGK dalam sebuah podcast.
Keduanya mengupas berbagai mitos populer seputar penurunan dan kenaikan berat badan yang kerap dipercaya masyarakat.
Nikita mengajukan pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat, terutama soal kebiasaan diet yang dianggap benar padahal belum tentu sesuai dengan kaidah medis.
Topik diet memang selalu menarik perhatian. Banyak orang ingin memiliki berat badan ideal, tetapi masih bingung menentukan metode yang tepat. Tak sedikit pula yang terjebak pada tren instan tanpa memahami kebutuhan tubuh masing-masing.
Melalui podcast Nikita Willy, dr. Diana menjawab informasi mitos dan fakta yang beredar di media sosial. Ia menekankan pentingnya edukasi berbasis ilmu gizi agar masyarakat tidak mudah terpengaruh klaim yang belum tentu benar.
BACA JUGA:Miris! 6 Wilayah Papua Masuk Daftar Provinsi Termiskin di Indonesia
BACA JUGA:Panas!!! Sikap Tegas Brand Lokal Ini Picu Perdebatan dengan LGBT di Media Sosial
Dalam sesi “mitos atau fakta”, dr. Diana menegaskan bahwa anggapan tidak boleh makan malam saat diet adalah mitos.
Menurutnya, diet bukan berarti melewatkan waktu makan. “Diet itu pengaturan pola makan, bukan tidak makan,” jelasnya. Ia menekankan bahwa sarapan, makan siang, maupun makan malam tetap boleh dilakukan selama total kalori harian sesuai kebutuhan.
Sementara itu, konsumsi teh hijau, matcha, dan kopi hitam disebut sebagai fakta dapat membantu program penurunan berat badan, asalkan tanpa tambahan gula dan krimer berlebihan.
Minuman tersebut dinilai bisa membantu menekan nafsu makan, namun tetap harus diperhitungkan kalorinya.
Mitos lain yang diluruskan adalah soal minum air dingin yang disebut bisa membuat perut buncit. Menurut dr. Diana, hal tersebut tidak benar. “Yang bikin buncit itu total kalori per hari, bukan suhu minumannya,” ujarnya.
Dalam pembahasan lebih lanjut, dr. Diana menegaskan bahwa kunci utama perubahan berat badan adalah keseimbangan kalori, yakni defisit kalori untuk menurunkan berat badan dan surplus kalori untuk menaikkannya.
Namun, ia mengingatkan agar tidak mengurangi asupan secara berlebihan hingga di bawah kebutuhan dasar tubuh atau basal metabolic rate (BMR).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
