INFORADAR.ID - Kita hidup di zaman yang aneh. Jadwal penuh, notifikasi tak berhenti, pekerjaan datang silih berganti. Hampir setiap hari kita berkata, “capek,” tapi jarang bisa berkata, “aku merasa berkembang.” Kita sibuk—namun perasaan maju seperti sesuatu yang jauh dan asing.
Kesibukan hari ini sering kali bukan tanda produktivitas, melainkan tanda bertahan hidup. Banyak dari kita bekerja keras hanya untuk menjaga posisi, bukan untuk melangkah ke tingkat berikutnya.
Gaji habis untuk kebutuhan dasar, energi terkuras untuk rutinitas, dan waktu habis untuk memenuhi tuntutan jangka pendek. Akhirnya, hidup terasa seperti treadmill: bergerak terus, tapi tetap di tempat yang sama.
Sistem kerja modern ikut memperparah keadaan. Kita dinilai dari kecepatan merespons, bukan kedalaman berpikir. Dari seberapa sibuk terlihat, bukan seberapa bermakna hasilnya. Multitasking dipuja, lembur dianggap loyalitas, sementara istirahat sering dicap malas. Dalam kondisi seperti ini, sibuk menjadi identitas, bukan pilihan.
Media sosial juga punya peran besar. Kita melihat orang lain tampak melaju cepat: karier naik, usaha berkembang, hidup terlihat mapan. Padahal yang ditampilkan hanyalah potongan terbaik.
Perbandingan ini membuat kita merasa tertinggal, meski sebenarnya kita bekerja lebih keras dari sebelumnya. Sibuk secara fisik, lelah secara mental, dan tertinggal secara emosional.
Masalah lainnya adalah kita jarang diberi ruang untuk berhenti dan mengevaluasi. Waktu habis untuk mengerjakan, bukan memikirkan arah. Kita tahu apa yang harus dilakukan hari ini, tapi tidak selalu tahu untuk apa semua ini dijalani. Tanpa arah yang jelas, kesibukan hanya menjadi kebisingan yang melelahkan.
Merasa maju sebenarnya bukan soal kecepatan, tapi soal makna. Apakah yang kita kerjakan hari ini mendekatkan kita pada hidup yang kita inginkan? Atau sekadar membuat kita cukup bertahan sampai akhir bulan? Pertanyaan ini jarang sempat kita jawab, karena besok pagi kesibukan sudah menunggu lagi.
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak aktivitas, tapi lebih banyak kesadaran. Berani memperlambat sejenak, memilih dengan sadar, dan mendefinisikan ulang apa arti “maju” versi diri sendiri. Sebab hidup bukan lomba terlihat sibuk, melainkan perjalanan menemukan arah.
Dan mungkin, kemajuan sejati dimulai saat kita berhenti sejenak, lalu bertanya: aku sibuk untuk siapa, dan menuju ke mana?
Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar