Pertanyaan “Where do the children play?” pada akhirnya adalah pertanyaan tentang hak hidup: hak untuk menikmati alam yang sehat, hak untuk tumbuh tanpa ancaman bencana ekologis, dan hak untuk mewarisi bumi yang masih layak disebut rumah.
Indonesia: Tanah Kaya yang Luka
Jika pertanyaan Cat Stevens kita tarik ke konteks Indonesia, gema kegelisahannya terasa semakin nyata. Negeri yang dikenal dengan hutan tropis, laut luas, dan keanekaragaman hayati ini justru mengalami kerusakan lingkungan yang masif. Deforestasi, pencemaran sungai, tambang yang merusak lanskap, serta alih fungsi lahan yang tak terkendali telah menggerus ruang hidup masyarakat—terutama anak-anak di desa-desa dan pinggiran kota.
Anak-anak di sekitar kawasan tambang bermain di tanah berdebu dan air tercemar. Anak-anak pesisir tumbuh dengan ancaman abrasi dan laut yang kehilangan ikan. Anak-anak kota besar bermain di gang sempit, jauh dari ruang hijau, di bawah bayang-bayang gedung dan asap kendaraan. Pertanyaannya sama: di mana mereka akan bermain?
Pembangunan yang tidak berakar pada kearifan lokal dan keberlanjutan ekologis justru menciptakan kemajuan semu—menguntungkan segelintir pihak, namun meninggalkan luka panjang bagi banyak generasi.
Mengembalikan Kebijaksanaan dalam Pembangunan
Lagu Where Do the Children Play? mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan merenung. Bukan untuk kembali ke masa lalu secara romantik, tetapi untuk memulihkan kebijaksanaan yang hilang. Kemajuan sejati seharusnya tidak memutus hubungan manusia dengan alam, melainkan memperhalus dan memperdalamnya.
Pembangunan yang berkelanjutan bukan slogan kosong, melainkan komitmen moral. Ia menuntut keberanian untuk berkata cukup, untuk menahan diri, dan untuk menempatkan kehidupan, bukan laba, sebagai pusat kebijakan. Ia menuntut kita mendengar suara yang sering diabaikan: suara anak-anak, suara alam, dan suara generasi yang belum lahir.
Pertanyaan yang Harus Terus Diajukan
Pada akhirnya, Where Do the Children Play? bukan lagu nostalgia, melainkan peringatan. Pertanyaan yang diajukan Cat Stevens puluhan tahun lalu kini semakin mendesak. Dunia terus bergerak cepat, tetapi bumi memiliki batas. Jika manusia terus melangkah tanpa kebijaksanaan, maka anak-anak tidak hanya kehilangan tempat bermain, tetapi juga kehilangan masa depan.
Menjaga lingkungan bukan semata soal menyelamatkan alam, melainkan menyelamatkan kemanusiaan itu sendiri. Sebab di ruang tempat anak-anak bermain, di tanah, di air, di udara yang bersih—di sanalah harapan sebuah peradaban dipertaruhkan.
Dan selama pertanyaan itu belum terjawab dengan tindakan nyata, lagu Cat Stevens akan terus bergema sebagai suara hati nurani: di mana anak-anak akan bermain, ketika dunia telah kita habiskan?