Rupiah Menguat, Tapi Gejolak Global Masih Mengintai, Apa Dampaknya ke Dompet Warga
Uang rupiah -Pegadaian -
INDORADAR.ID — Nilai tukar rupiah masih tetap menjadi sorotan di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Bank Indonesia (BI) menyebut stabilitas kondisi global yang masih bergejolak akibat pengaruh perang Timur Tengah. Karena itu, stabilitas rupiah tetap menjadi salah satu fokus utama dalam kebijakan moneter.
Berdasarkan data BI, rupiah pada 24 Agustus 2026 tercatat sebesar Rp17.703 per dolar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Posisi tersebut menguat dibandingkan Rp17.705 pada 21 Agustus dan Rp17.779 pada 20 Agustus 2026.
Pergerakan rupiah menjadi sangat penting bagi masyarakat, karena Indonesia sendiri masih bergantung pada batang, bahan baku, ataupun komponen lainnya dari luar negri. Jika rupiah melemah, otomatis biaya impor akan naik dan dapat memberikan tekanan terhadap harga produk impor tersebut.
BACA JUGA:BNI Rilis Wondr Merchant dan BNIdirect Bisnis, Pelaku Usaha Kini Bisa Pantau Transaksi Lebih Praktis
Dampaknya dapat terasa pada sejumlah barang konsumsi, seperti perangkat elektronik, gadget, kendaraan, hingga produk yang bahan bakunya berasal dari luar negeri. Namun, perubahan kurs tidak otomatis membuat harga barang langsung naik karena pelaku usaha juga mempertimbangkan stok, kontrak pembelian, biaya distribusi, dan strategi harga.
Selain itu sektor transportasi dan perjalanan luar negeri juga akan ikut terdampak. Masyarakat yang membeli valuta asing untuk kebutuhan wisata, pendidikan, atau transaksi internasional perlu memperhatikan pergerakan kurs karena pelemahan rupiah membuat kebutuhan dana menjadi lebih besar.
Meski demikian, BI terus melakukan berbagai solusi dalam menjaga stabilitas untuk menghadapi tekanan eksternal. Pada Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate 5,75 persen dan menyatakan kebijakan tersebut diarahkan antara lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
BACA JUGA:Password Mulai Ditinggalkan, Passkey Siap Jadi Standar Baru Keamanan Digital
BACA JUGA:Deepfake Makin Canggih, Jangan Terkecoh! Begini Cara Bedakan Video AI Palsu
Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi pengingat untuk tidak panik menghadapi pergerakan kurs. Mengatur belanja, mempertimbangkan kebutuhan impor, dan menyiapkan dana perjalanan secara lebih awal dapat membantu mengurangi risiko. Stabilitas rupiah pada akhirnya bukan hanya persoalan pasar keuangan, tetapi juga berkaitan dengan daya beli masyarakat sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: