Disway Award

Rupiah Melemah, Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Imbas Konflik Timur Tengah

Rupiah Melemah, Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Imbas Konflik Timur Tengah

Dolar dan Rupiah-foto : pinterest-

INFORADAR.ID  - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. rupiah bahkan sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS, yang menjadi salah satu posisi terlemah dalam beberapa tahun terakhir. 

Pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar global. Eskalasi konflik tersebut menimbulkan ketidakpastian ekonomi serta kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. 

Salah satu faktor utama adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global. 

Berdasarkan data perdagangan pasar keuangan, rupiah dibuka melemah sekitar 76 poin atau 0,45 persen menjadi sekitar Rp17.001 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di kisaran Rp16.925 per dolar AS. 

Pelemahan nilai tukar rupiah ini bahkan melampaui level terendah yang pernah terjadi saat pandemi Covid-19 pada 2020 yang berada di kisaran Rp16.600–Rp16.700 per dolar AS. Kondisi ini juga mendekati level krisis moneter Asia tahun 1998 yang sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan intraday. 

Selain itu, penguatan dolar AS secara global juga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Tidak hanya Indonesia, sejumlah mata uang Asia seperti yen Jepang, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia juga tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS. 

Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.090 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar diprediksi masih akan dipengaruhi oleh sentimen global serta kondisi pasar keuangan internasional. 

Bank Indonesia sendiri terus memantau perkembangan pasar dan siap melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.

 

Yuni Marsita, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mathla'ul Anwar

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: