BGN Dorong Guru Jadi “Jembatan” Literasi Gizi, 658 Ribu Guru Jadi Sasaran Awal
BGN Dorong guru jadi jembatan literasi gizi--
INFORADAR.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong guru ikut menjadi penggerak literasi Gizi di lingkungan sekolah. Langkah ini dilakukan agar informasi tentang makanan bergizi tidak berhenti di meja makan, tetapi juga dipahami siswa sejak dari ruang kelas.
Kepala BGN Sudaryono menilai pemahaman soal gizi masih perlu diperkuat, terutama di sejumlah daerah. Menurutnya, masih ada anggapan di masyarakat mengenai makanan tertentu yang belum sesuai dengan pengetahuan gizi.
Salah satu contoh yang disorot adalah anggapan bahwa mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisul. Sudaryono menilai pemahaman seperti itu perlu diluruskan melalui edukasi yang mudah dipahami.
“Kenyataannya di daerah itu masih banyak orang yang menganggap bahwa makan telur bikin bisul. Yang pada kenyataannya sebetulnya kan enggak ada hubungannya,” kata Sudaryono, Kamis (13/8/2026).
Menurut Sudaryono, guru memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa. Selain mengajarkan pelajaran di kelas, guru juga dapat menjadi teladan dalam membangun kebiasaan makan yang lebih sehat.
BACA JUGA:HUT RI ke-81, Naik Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp1 pada 17 Agustus 2026
Melalui literasi gizi, guru diharapkan mampu menjelaskan kandungan makanan secara sederhana. Misalnya, telur dapat dikenalkan sebagai salah satu sumber protein yang dibutuhkan tubuh.
Begitu pula dengan sayuran yang mengandung serat. Penjelasan tersebut diharapkan membuat siswa tidak sekadar mengonsumsi makanan, tetapi juga memahami manfaat dari makanan yang mereka santap.
“Oh makan telur tuh boleh, proteinnya tinggi. Oh makan sayur tuh ada seratnya, gunanya untuk ini. Di situlah salah satu fungsi guru,” ujar Sudaryono.
Program literasi gizi ini berkaitan dengan dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). BGN sebelumnya telah memulai Kick-off Literasi Gizi dan Keamanan Pangan bagi Guru pada Rabu (12/8/2026).
Pada tahap awal, program tersebut menyasar 53.831 guru dan tenaga kependidikan di DKI Jakarta. Jawa Barat menjadi wilayah dengan sasaran terbesar, yakni 492.944 orang, sedangkan Banten mencapai 111.525 orang.
BACA JUGA:Siswi Sekolah Rakyat Jadi Calon Paskibraka 2026, Mensesneg Prasetyo Hadi Ikut Bangga
BACA JUGA:Kemensos Percepat Sekolah Rakyat Permanen, 66 Pemda Diminta Segera Tuntaskan Syarat Lahan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: