Disway Award

Surat-Surat yang Tidak Pernah Sampai ke Tuhan, Maqam Rindu di Selatan Cianjur

Surat-Surat yang Tidak Pernah Sampai ke Tuhan, Maqam Rindu di Selatan Cianjur

Ilustrasi Surat-Istock.com/Olga Ubirailo-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya FISIP, Untirta

 

Di Cianjur Selatan, malam selalu datang perlahan. Tidak tergesa, tidak pula riuh. Laut di kejauhan berkilau tipis seperti lembar kain satin yang digelar Tuhan untuk menutup luka-luka siang hari. Angin asin naik ke perbukitan, menyusup ke rumah-rumah kayu, membawa bau garam dan sunyi.

Ia tinggal di rumah kecil menghadap laut. Dari jendela, ombak tampak seperti barisan doa yang tidak pernah putus. Malam-malamnya diisi dengan satu kebiasaan: menulis surat.

Surat-surat itu tidak pernah dikirim.

Di meja kayu tua, lampu minyak menyala redup. Cahayanya jatuh ke kertas putih. Putih yang mengingatkannya pada gaun satin yang dulu dikenakan perempuan itu. Putih yang bersih, tetapi menyimpan dingin.

Ia menulis pelan, seolah takut mengganggu malam.

"Aku tidak tahu ini rindu atau hanya kebiasaan menunggu."

Ia berhenti. Menghela napas. Di luar, laut menggeram lembut. Seperti mengingatkan bahwa rindu adalah maqam pertama, tempat manusia belajar merasa kehilangan, tetapi belum belajar melepaskan.

Perempuan itu hadir dalam hidupnya beberapa tahun lalu. Mereka bertemu di surau kecil dekat pantai. Setelah pengajian magrib, mereka duduk di batu karang, memandang laut yang gelap. Tidak ada janji. Tidak ada kata cinta. Hanya diam yang terasa cukup.

“Kau sering diam,” kata perempuan itu suatu malam.

“Diam itu doa,” jawabnya.

Perempuan itu tersenyum. Senyum orang yang paham, tetapi memilih tidak bertanya.

Cinta mereka tumbuh tanpa suara. Seperti air tanah. Tidak terlihat, tetapi menghidupi. Ia mengira itulah cinta yang paling aman. Ia lupa, tidak semua yang tenang ditakdirkan tinggal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: