Disway Award

Mahasiswa KKM 68 UNTIRTA Gelar Penyuluhan Anti-Perundungan di Dua Sekolah Dasar ‎

Mahasiswa KKM 68 UNTIRTA Gelar Penyuluhan Anti-Perundungan di Dua Sekolah Dasar ‎

Pemaparan materi oleh mahasiswa kepada siswa sekolah dasar terkait pencegahan perundungan --

INFORADAR.ID - Mahasiswa KKM Tematik 68 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menggelar penyuluhan anti-bullying di SDN Sempu dan SDN Mangkunegara sebagai upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pembentukan karakter anak sejak usia dini.

‎Ketua Kelompok KKM Tematik 68, Erland Gunawan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya mencegah perundungan yang masih kerap terjadi di lingkungan sekolah.

Menurutnya, tindakan bullying dapat berdampak pada kondisi psikologis serta perkembangan sosial anak. “Kami ingin memberikan pemahaman kepada siswa bahwa saling menghargai dan memperlakukan teman dengan baik adalah hal yang sangat penting,” ujarnya.

‎Penyuluhan dinilai penting diberikan sejak tingkat sekolah dasar karena pada fase tersebut anak-anak tengah berada dalam masa pembentukan karakter. Edukasi mengenai empati, kepedulian, serta sikap saling menghormati diharapkan mampu mencegah munculnya perilaku negatif di kemudian hari. Dengan penanaman nilai sejak dini, interaksi sosial yang sehat dapat tumbuh secara alami dalam keseharian siswa.

‎Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini meliputi pengertian bullying, ragam bentuknya, dampak yang dapat ditimbulkan, hingga langkah-langkah pencegahan dan cara menyikapi tindakan perundungan.

Salah satu pemateri, Nayla Zeva El Haqq, mengatakan bahwa penyampaian materi dilakukan dengan metode yang disesuaikan dengan usia siswa. Ia menyebut pendekatan interaktif seperti permainan edukatif, simulasi situasi sehari-hari, dan sesi tanya jawab membuat anak-anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.

‎Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait pertemanan di sekolah.

Nursaidah, anggota KKM yang juga menjadi pemateri, menuturkan bahwa banyak siswa mulai menyadari bahwa tindakan mengejek atau mengucilkan teman termasuk bentuk perundungan yang tidak boleh dilakukan.

Menurutnya, respons positif tersebut menjadi indikator bahwa pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

‎Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Guru-guru turut membantu mengondisikan siswa serta mendampingi selama penyuluhan berlangsung. Dukungan tersebut mencerminkan komitmen sekolah dalam membangun lingkungan belajar yang kondusif dan inklusif.

‎Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap siswa mampu menerapkan sikap ramah, menghormati perbedaan, serta berani menolak tindakan perundungan. Erland menegaskan bahwa penyuluhan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga sekolah sebagai ruang yang aman dan menyenangkan bagi seluruh siswa.

Dengan sinergi antara siswa, guru, dan warga sekolah, budaya saling menghargai diharapkan terus berkembang sehingga kasus perundungan dapat diminimalkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: