Disway Award

Perahu di Atas Sungai: Menyusuri Arus Waktu, Identitas, dan Kebijaksanaan Hidup Indonesia

Perahu di Atas Sungai: Menyusuri Arus Waktu, Identitas, dan Kebijaksanaan Hidup Indonesia

Ahmad Sihabuddin-Istimewa-

Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta

 

Ada lagu-lagu yang tidak menuntut kita untuk memahami, melainkan mengajak kita menepi. “Boat on the River” adalah salah satunya. Lagu dari Yusuf ”Cat  Steven” Islam, juga di cover oleh group rock STYX dengan musik akustiknya lirih dan sangat menyentuh sanubari, termasuk lagu favorit yang masih kerap kali saya dengar, dan tidak pernah membosankan untuk di dengarkannya. 

Dengan lirik yang sederhana, hampir seperti doa lirih, lagu ini berbicara tentang perahu kecil yang mengapung di sungai, tentang arus yang pelan, tentang keinginan untuk kembali ke kesederhanaan hidup. Tidak ada teriakan heroik, tidak pula manifesto politik. Yang ada hanyalah kerinduan akan ketenangan, jarak dari hiruk-pikuk dunia, dan kesadaran bahwa hidup bukan semata soal kecepatan, melainkan arah.

Dalam konteks Indonesia hari ini, masyarakat yang hidup di antara derasnya arus digital, kegaduhan politik, dan tekanan ekonomi lagu ini terasa seperti cermin yang jujur sekaligus pengingat yang lembut.

Sungai sebagai Metafora Peradaban Nusantara

Bagi Indonesia, sungai bukan sekadar bentang alam; ia adalah nadi kebudayaan. Peradaban-peradaban besar Nusantara tumbuh di sepanjang sungai: Musi, Kapuas, Mahakam, Bengawan Solo, Brantas, Citarum. Sungai adalah jalur perdagangan, ruang perjumpaan budaya, sekaligus saksi bisu perubahan zaman.

Dalam “Boat on the River”, sungai hadir sebagai metafora waktu dan kehidupan, arus yang terus mengalir tanpa bisa dibendung. Perahu kecil melambangkan manusia: rapuh, terbatas, namun tetap bergerak. 

Dalam kearifan lokal Indonesia, pandangan serupa dapat ditemukan dalam pepatah Jawa urip iku mung mampir ngombe, hidup hanyalah singgah sejenak. Kita tidak pernah benar-benar menguasai arus; yang bisa kita lakukan hanyalah belajar mengarunginya dengan bijaksana.

Namun, Indonesia modern sering kali memperlakukan sungai, dan waktu sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan. Sungai disempitkan, dicemari, dialihfungsikan. Waktu dipercepat, dipadatkan, diperas demi produktivitas. Akibatnya, kita kehilangan relasi intim dengan keduanya. Lagu ini, secara simbolik, mengajak kita kembali duduk di perahu kecil itu, merasakan arus, bukan melawannya.

Kerinduan akan Kesederhanaan di Tengah Budaya Pamer

Lirik lagu ini memancarkan kerinduan pada hidup yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk ambisi. Sebuah perasaan yang paradoksal: justru muncul paling kuat di tengah masyarakat yang serba berisik. Indonesia hari ini adalah ruang besar budaya pamer—achievement culture yang dipertontonkan melalui media sosial, gelar akademik yang dipajang, jabatan yang dirayakan, kekayaan yang diviralkan.

Dalam situasi ini, “Boat on the River” terasa seperti suara minor yang nyaris tenggelam, namun justru itulah kekuatannya. Lagu ini tidak mengutuk dunia modern, tetapi juga tidak memujanya. Ia hanya menawarkan alternatif: hidup yang cukup, sadar batas, dan tidak terobsesi menjadi yang terdepan.

Konteks sosial Indonesia memperlihatkan paradoks yang sama. Di satu sisi, kita membanggakan nilai-nilai gotong royong dan kesahajaan. Di sisi lain, kita terjebak dalam logika kompetisi tanpa henti. Lagu ini mengingatkan bahwa tidak semua perjalanan harus menjadi perlombaan. Kadang, tujuan hidup bukanlah tiba lebih cepat, tetapi tiba dengan selamat—dan tetap menjadi manusia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: