Kita Bersaudara, Tapi Kenapa Saling Benci di Kolom Komentar
Komunikasi-Pinterest-
Di tengah situasi ini, ada sebuah gagasan yang layak kita renungkan bersama.
Pada Februari 2019, di Abu Dhabi, dua tokoh agama dari tradisi yang berbeda Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmad Al-Tayyeb menandatangani sebuah dokumen yang mereka sebut Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama.
Isinya sederhana tapi menohok: agama seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan justifikasi untuk saling melukai.
Dan di balik semua perbedaan yang ada agama, ras, ideologi setiap manusia pada dasarnya bersaudara. Persaudaraan itu bukan slogan. Ia adalah tanggung jawab.
Dokumen ini mungkin tidak viral di beranda kita. Tapi pesannya sangat relevan dengan apa yang sedang kita hadapi setiap hari.
Sebab masalah intoleransi digital bukan hanya soal kurangnya regulasi atau kurangnya edukasi ia berakar pada kegagalan kita untuk melihat kemanusiaan orang lain yang berbeda dari kita.
Filosof Hannah Arendt, yang hidup di tengah kengerian totalitarianisme abad ke-20, pernah mengingatkan bahwa intoleransi yang dibiarkan tanpa perlawanan.
Nilai bisa membawa bangsa ke tempat yang jauh lebih gelap dari yang bisa kita bayangkan. Kita punya cukup bukti sejarah untuk tahu bahwa ia benar.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Bukan sesuatu yang muluk-muluk. Mulai dari hal paling sederhana: berhenti sebentar sebelum menekan tombol share.
Tanya pada diri sendiri apakah ini fakta, atau hanya membenarkan kemarahan yang sudah ada lebih dulu?
Apakah kalau saya menyebarkan ini, saya sedang menambah cahaya atau menambah api?
Dialog yang tulus bukan debat untuk menang. Ia adalah kesediaan untuk mendengar cerita di balik pandangan yang berbeda dari kita.
Dan itu bisa dimulai dari hal sekecil menahan diri untuk tidak membalas komentar yang memancing emosi di kolom komentar.
Kita semua pernah menjadi orang asing bagi seseorang. Dan di saat yang sama, seseorang pernah menjadi saudara bagi kita tanpa kita minta.
Mungkin dari situlah kita bisa memulai. Bukan dari tagar, bukan dari kolom komentar, tapi dari pilihan kecil setiap hari untuk tidak menghapus kemanusiaan orang lain hanya karena ia berbeda.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: