Instagram Sekarang Kayak LinkedIn, Gak Seru!
instagram udah kaya linkedIn-Hipwee-
INFORADAR.ID- Ingat masa-masa ketika Instagram hanyalah tempat untuk membagikan foto makanan dengan filter yang berlebihan, atau swafoto buram bersama teman tanpa harus memikirkan tata letak profil?
Sayangnya, era itu tampaknya sudah semakin pudar. Belakangan ini, banyak pengguna mengeluhkan bahwa Instagram kini terasa semakin kaku, penuh tekanan, dan bahkan atmosfernya menyerupai platform pencari kerja, LinkedIn.
Sentimen ini memicu satu kesimpulan umum di kalangan netizen, yaitu Instagram sekarang sudah tidak seru lagi.
Pergeseran budaya di Instagram ini tidak terjadi dalam semalam. Berubahnya fungsi dari platform berbagi momen kasual menjadi panggung utama pencitraan diri atau personal branding membuat banyak pengguna merasa kelelahan secara mental.
BACA JUGA:Rekomendasi Tontonan Akhir Pekan: Pilihan Film Estetis untuk Ditonton Bersama Pasangan dan Sahabat
BACA JUGA:Praktis dan Nikmat, Begini Tips Menyeduh Kopi Hitam yang Enak dan Tidak Pahit
Hal ini terlihat dari unggahan pencapaian yang mulai mendominasi, seperti memamerkan sertifikat, merayakan hari jadi di perusahaan, pamer kartu identitas kantor baru, atau pengumuman promosi jabatan yang sering menghiasi lini masa.
Konten hiburan dan momen sehari-hari mulai tergeser oleh unggahan panjang berisi tips karier, motivasi kerja, atau rangkuman buku pengembangan diri.
Penggunaan bahasanya pun menjadi sangat tertata, inspiratif, dan seolah ditujukan untuk menarik perhatian perekrut, alih-alih berinteraksi santai dengan teman.
Banyak pengguna yang mengeluh bahwa dulu mereka membuka Instagram untuk mencari hiburan atau melihat kabar teman yang konyol.
BACA JUGA:Cocok Buat Anak Kost! 4 Ide Berkebun Kangkung Gantung di Lahan Minim
BACA JUGA:Bukan Sekadar Tabungan, Dana Darurat Jadi Bekal Penting Anak Muda Hadapi Situasi Tak Terduga
Namun sekarang isinya penuh dengan orang yang memamerkan pencapaian kerja, keikutsertaan seminar, atau membuat konten edukasi yang kaku.
Rasanya benar-benar seperti sedang menggulir layar LinkedIn, yang bukannya menyegarkan pikiran tetapi malah menambah beban pikiran.
Jika dulu tekanannya hanya berpusat pada keharusan memiliki foto yang bagus, kini pengguna merasa dituntut untuk terlihat sukses secara profesional dan finansial. Instagram seolah bukan lagi tentang apa yang dilakukan hari ini, melainkan apa yang sudah dicapai dalam hidup.
Hal tersebut membuat ruang untuk berekspresi secara bebas dan otentik perlahan menghilang. Sebagai dampaknya, pengguna kasual memilih cara lain untuk berekspresi agar tetap waras.
Fitur close friends atau bahkan akun kedua yang dikunci rapat kini menjadi zona aman untuk membagikan kehidupan nyata yang berantakan, keluh kesah, atau lelucon tanpa takut dinilai oleh rekan kerja atau atasan.
Tidak sedikit juga pengguna yang mulai bermigrasi ke platform lain untuk mencari konten yang lebih organik, mentah, dan murni menghibur tanpa tendensi karier.
Pergeseran ini sebenarnya merupakan efek samping dari era ekonomi kreator. Ketika citra diri di media sosial bisa mendatangkan uang, relasi bisnis, atau bahkan tawaran pekerjaan yang menggiurkan, wajar jika banyak orang memoles profil Instagram mereka layaknya etalase profesional.
Namun bagi pengguna biasa yang hanya ingin bersosialisasi santai, hal ini membunuh esensi menyenangkan dari aplikasi tersebut.
Selama algoritma terus menghargai konten yang terpoles sempurna, tampaknya Instagram akan terus menjadi LinkedIn versi visual bagi para penggunanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
