Stefhanie Ardianty Jadi Lulusan Terbaik Untirta 2026
Stefhanie Ardianty-istimewa-
INFORADAR.ID - Di layar ponsel, unggahan akun @untirta_official menampilkan wajah seorang wisudawati dengan toga dan senyum tipis yang tenang. Di bawah namanya, Stefhanie Ardianty, S.I.Kom., tertera angka yang bagi sebagian besar mahasiswa adalah "angka keramat": IPK 3.99. Predikatnya? Dengan Pujian.
Namun, kalau Anda duduk mengobrol dengannya, jangan harap akan mendengar narasi tentang ambisi yang meledak-ledak atau strategi belajar yang sistematis nan kaku. Stefhanie justru memulai ceritanya dengan pengakuan yang sangat jujur, sebuah pengakuan yang mungkin dirasakan banyak mahasiswa lain tapi jarang diungkapkan: "Enggak kepikiran sebenarnya sama sekali milih Untirta. Tapi ya sudah, qadarullah diterimanya di sana."
Datang jauh dari SMAN 95 Jakarta menuju Serang, Stefhanie tidak membawa peta mimpi yang muluk. Tidak ada target untuk menjadi lulusan terbaik, tidak ada daftar prestasi yang harus dicentang. Ia hanya datang untuk kuliah. "Ngalir saja," katanya. Tetapi, mengalir bagi seorang Stefhanie bukan berarti pasif.
BACA JUGA:Kisah Alwi, Wisudawan UIN Banten yang Lulus 3,5 Tahun dan Sabet Predikat Terbaik
Di balik IPK-nya yang nyaris sempurna itu, ada realitas manajemen waktu yang sebenarnya cukup kacau di permukaan. Bayangkan, ia sempat memegang tiga hingga empat organisasi sekaligus di waktu yang bersamaan. Tantangannya klise namun berat: tugas yang menumpuk dan deadline yang mepet. Stefhanie tidak punya rumus ajaib untuk mengatur waktu. Ia hanya memegang satu prinsip yang ia sebut sebagai "prioritas."
"Tujuan awal kuliah ya untuk menimba ilmu. Jadi, apapun itu, yang harus dinomor satukan adalah perkuliahan dulu, baru organisasi, baru kehidupan pribadi," tuturnya.
Menariknya, Stefhanie bukan tipe mahasiswa yang mengurung diri di perpustakaan. Strategi belajarnya justru sangat manusiawi dan sosial. Ia mengaku sering merasa tidak paham dengan materi di kelas. Alih-alih menyerah, ia mengejar pemahaman itu dari jurnal universitas lain atau sekadar bertanya pada teman sejurusan di kampus berbeda. Baginya, menjadi mahasiswa adalah tentang menjadi kritis dan berani terlihat "bodoh" dengan mengajukan pertanyaan yang mungkin dianggap receh di kelas.
"Jangan terlalu individualis. Kita makhluk sosial dan butuh orang lain," tambahnya dengan nada santai.
BACA JUGA:Ubah Luka Jadi Kekuatan: Kisah Fadila Anwar Bangkit Jadi Duta GenRe Banten
BACA JUGA:Untirta Kukuhkan 715 Lulusan pada Wisuda Gelombang I Tahun 2026
Ada satu momen yang mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan. Bukan saat ia mendapat nilai A, melainkan setiap kali ia mendengarkan materi dari dosen-dosennya di Ilmu Komunikasi FISIP Untirta. Baginya, ilmu-ilmu itu terasa sangat "daging" karena menjelaskan realitas sosial yang tidak akan ia temukan jika ia memilih untuk tidak kuliah.
Ketika ditanya apa kunci menjadi lulusan terbaik, Stefhanie tertawa kecil. Ia menyebutnya sebagai keberuntungan. Tapi jika digali lebih dalam, ada rasa tanggung jawab yang sangat kuat dalam dirinya.
"Selama kita masih menjadi mahasiswa, setiap harinya kita punya tanggung jawab untuk menyelesaikan pembelajaran di hari itu. Apa yang sudah dimulai, sepatutnya diselesaikan dengan baik."
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
