Terjebak Alur Scrolling Tanpa Batas: Ketika Screen Time Tinggi Dianggap 'Normal' oleh Gen Z
Screen time -Universitas Prasetiya Mulya -
INFORADAR.ID — Berselancar di media sosial dengan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari kini bukan lah hal anomali yang bisa dilakukan, melainkan hal normal yang lumrah dilakukan oleh kalangan generasi z. Fenomena scrolling tanpa henti ini tanpa sadar membentuk pola ketergantungan digital yang kini kian mengkhawatirkan.
Melansir dari laporan Digital Indonesia 2026 yang dirilis oleh We Are Social, rata-rata warganet Indonesia mengakses media sosial dengan durasi menembus 3 jam lebih perharinya. Platform vidio pendek seperti Tiktok memimpin jumlah konsumsi dengan rata-rata mencapai 1 jam 53 menit perhari nya.
Sementara data lain yang dikeluarkan oleh GoodStats mengungkapkan data yang lebih memprihatinkan lagi. Sekitar 31% gen z di Indonesia bisa menghabiskan waktu luang mereka antara 4 sampai 6 jam setiap harinya hanya untuk memantau media sosial.
Tingginya durasi layar (screen time) ini memicu perhatian serius dari pakar karena bisa menganggu kesehatan mental remaja yang kini telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas nasional.
Terpaparnya konten visual yang cukup konstan tiap harinya seperti lewat platform Instagram atau Tiktok, memicu pelepasan dopanin secara instan yang hal ini bisa menyebabkan penggunaanya terjebak dalam simulasi kecanduan digital.
BACA JUGA:Menolak Cocoklogi, Ahmad Rifa'i Bedah Hubungan Al-Qur'an dan Sains Lewat Karya Ilmiah.
BACA JUGA:Sering Sembelit? Coba Minum Smoothie Kiwi Setelah Makan Malam
Psikolog klinis memperingatkan adanya korelasi kuat antara screen time yang tidak terkontrol dengan gangguan psikologis pada remaja. Kebiasaan membandingkan diri secara sosial (social comparison) memicu kecemasan, penurunan rasa percaya diri, hingga gejala depresi akibat fenomena FOMO (Fear of Missing Out).
Selain damkap mental kesehatan mental yang ditimbulkan, konsumsi durasi layar berlebihan juga bisa merusak sikuls tidur alami dari paparan cahaya biru (blue light). Tidak adanya batasan digital yang sehat, menormalisasikan durasi scrolling yang tinggi sangat berisiko melahirkan generasi yang rentan mengalami kelelahan digital mental kronis di masa depan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: