Disway Award

Rebahan Seharian, Healing atau Warning? Fenomena “Bed Rotting” di Kalangan Anak Muda

Rebahan Seharian, Healing atau Warning? Fenomena “Bed Rotting” di Kalangan Anak Muda

Fenomena Bed Rotting di Kalangan Anak Muda-Pinterest/Psychic Acces-

INFORADAR.ID - Fenomena bed rotting tengah ramai diperbincangkan di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z.

Istilah bed rotting merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh di tempat tidur untuk melakukan aktivitas pasif sebagai bentuk self-care atau pelepas stres.

Meski terdengar negatif karena kata “rotting” yang berarti membusuk, praktik bed rotting justru dianggap sebagian anak muda sebagai cara untuk “berhenti sejenak” dari tekanan aktivitas sehari-hari, baik akademik maupun sosial. 

Selama melakukan bed rotting, seseorang tidak selalu tidur. Mereka tetap terjaga sambil melakukan berbagai aktivitas ringan seperti bermain media sosial melalui TikTok dan Instagram, menonton film atau serial secara maraton, makan camilan, hingga sekadar melamun. 

Bagi sebagian orang, bed rotting menjadi cara untuk memulihkan energi setelah mengalami kelelahan fisik maupun mental. Selain itu, kebiasaan ini juga dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya hustle yang menuntut produktivitas tanpa henti.

BACA JUGA:Bahaya Kerokan untuk Penderita Serangan Jantung

BACA JUGA:Ubi Ungu, Si Karbohidrat Pintar yang Bikin Awet Muda

Rasa nyaman dan aman saat berada di tempat tidur membuat banyak orang merasa lebih tenang, seolah memiliki ruang untuk “mengisi ulang” energi yang terkuras.

Fenomena ini juga dirasakan oleh Icha Nurohmah, mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia asal Serang. Ia mengaku menjadikan bed rotting sebagai cara untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat.

“Alasan utamaku melakukan bed rotting sebenarnya lebih ke pilihan untuk benar-benar ‘berhenti’ sejenak. Kadang, interaksi sosial dan tumpukan tugas membuat mental terasa penuh. Jadi, menghabiskan waktu seharian di kasur tanpa melakukan apa pun yang produktif itu rasanya seperti recharge baterai yang sudah merah,” ujarnya.

Ia juga merasakan manfaat secara mental setelah melakukannya, meski tidak menutup adanya dampak negatif jika berlebihan. Icha mengungkapkan bahwa ada fase di mana dirinya merasa jauh lebih baik karena otaknya bisa benar-benar beristirahat. 

“Ada fase di mana aku merasa jauh lebih baik karena akhirnya otakku bisa benar-benar shutdown. Setelah seminggu penuh berkutat dengan tugas yang nggak habis-habis, momen rebahan tanpa beban itu terasa seperti kemewahan,” katanya.

BACA JUGA:Telinga Berdenging Setelah Pakai Earphone Terlalu Lama, Waspadai Gejala Tinnitus Ringan dan Cara Mengatasinya

BACA JUGA:Mengapa Tubuh Sering Drop di 10 Hari Terakhir Ramadan? Ini Penjelasannya

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait