Rebahan Seharian, Healing atau Warning? Fenomena “Bed Rotting” di Kalangan Anak Muda
Fenomena Bed Rotting di Kalangan Anak Muda-Pinterest/Psychic Acces-
Namun, ia menambahkan bahwa kebiasaan tersebut bisa menjadi kontraproduktif jika dilakukan terlalu lama. “Kalau aku melakukannya terlalu lama, misalnya sampai seharian penuh nggak menyentuh lantai sama sekali, biasanya malah muncul perasaan bersalah atau anxious. Efek fisiknya juga kadang bikin badan terasa makin berat,” lanjutnya.
Ia pun menilai bed rotting masih bisa dianggap sebagai self-care selama dilakukan dalam batas wajar. Menurutnya, tubuh dan pikiran memang membutuhkan istirahat total di tengah padatnya aktivitas.
“Di titik tertentu, otakku benar-benar butuh ‘istirahat total’ tanpa ada input informasi apa pun. Di kasur itu, aku merasa aman dan bisa memulihkan tenaga,” katanya.
Dalam praktiknya, aktivitas yang paling sering ia lakukan saat bed rotting adalah berselancar di media sosial. Icha mengaku lebih memilih konten ringan yang tidak membutuhkan banyak pemikiran.
“Kegiatan utamanya pasti scrolling media sosial. Biasanya nonton video kucing, daily vlog, atau meme, pokoknya yang ringan dan nggak butuh mikir keras,” tutupnya.
Fenomena bed rotting menunjukkan bagaimana generasi muda mencari cara untuk menjaga kesehatan mental di tengah tekanan hidup modern. Namun, kunci utamanya tetap pada keseimbangan.
Jika dilakukan secukupnya, aktivitas ini dapat menjadi cara efektif untuk memulihkan energi. Sebaliknya, jika berlebihan, bed rotting justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
