INFORADAR.ID — Bencana alam gempa bumi yang pada waktu lalu mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus menjadi perhatian hingga hari ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ribuan gempa susulan masih terus terjadi hingga Rabu (19/9/2026).
Hingga 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 2.768 gempa susulan dengan magnitudo berkisar M1,1 hingga M6,2. Dari jumlah tersebut, 24 gempa memiliki magnitudo di atas 5 dan 81 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Angka tersebut terus meningkat dibandingkan kian hari. Sebelumnya, pada 18 Agustus pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat terdapat sekitar 2.119 gempa susulan. Sementara pada 17 Agustus pukul 11.00 WIB, jumlahnya berkisar di angka 1.624 kejadian.
BACA JUGA:Kena PHK? Jangan Panik, Ini 12 Langkah yang Bisa Bantu Jaga Keuangan dan Mental
BACA JUGA:Graduation Blues Setelah Wisuda, Kenapa Lulusan Baru Bisa Merasa Kehilangan Arah?
BMKG menjelaskan gempa utama terjadi akibat aktivitas tektonik pada Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Masyarakat diminta tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan sebelumnya.
Yang menjadi perhatian, aktivitas gempa susulan diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa waktu kedepan. BMKG menyebut dari data sementara, rangkian gempa susulan dapat berakhir sekitar tiga sampai empat Minggu kedepan setelah gempa.
Sebelumnya, gempa utama juga memicu peringatan dini tsunami. BMKG mengeluarkan peringatan tersebut setelah gempa terjadi, sebelum akhirnya dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB pada hari yang sama. Masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi dan tidak mudah percaya kabar yang tidak terverifikasi.
BACA JUGA:PPPK Daerah Bakal Jadi Pegawai Pusat, Guru PPPK Berpeluang Ikut Seleksi PNS 2027
BACA JUGA:Gempa M7,7 Guncang Flores, 253 Ton Bantuan Dikirim untuk Percepat Pemulihan NTT
Dengan masih tingginya aktivitas seismik, keselamatan warga menjadi prioritas yang paling utama. Pemerintah daerah, petugas kebencanaan, dan masyarakat perlu sekali memastikan lokasi pengungsian, akses bantuan, serta bangunan yang rusak terus dipantau. Warga juga dianjurkan untuk selalu mengikuti informasi resmi terbaru dari BMKG dan jangan mendekat pada bangunan yang rawan hancur.