Gen Z Kembali Jatuh Hati pada Kamera Analog, Bukan Sekadar Nostalgia tapi Cara Kabur dari Jerat Algoritma

Jumat 31-07-2026,09:01 WIB
Reporter : Lydia Khaerani
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID - Fotografi analog kembali mencuri perhatian generasi muda, khususnya Gen Z yang tumbuh di tengah dominasi kamera digital dan media sosial. Alih-alih mengejar hasil foto instan dan serba cepat, mereka justru menikmati proses memotret menggunakan kamera film, berburu kamera analog bekas, hingga mencetak foto secara fisik sebagai cara menikmati pengalaman yang lebih personal.

Kebangkitan fotografi analog terlihat dari meningkatnya minat anak muda terhadap kamera film dalam beberapa tahun terakhir. Teknik fotografi yang sempat dianggap kuno dan nyaris ditinggalkan itu kini kembali menemukan penggemarnya, setelah sebelumnya terpinggirkan oleh perkembangan kamera digital dan smartphone.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan Gen Z terhadap fotografi analog bukan semata-mata karena ingin bernostalgia dengan teknologi masa lalu. Bagi sebagian anak muda, kamera film menawarkan pengalaman berbeda karena setiap jepretan harus dipikirkan secara matang mengingat jumlah frame terbatas dan hasil foto tidak bisa langsung dilihat.

Salsabila, mahasiswa asal Serang yang gemar berburu kamera analog bekas di kawasan Blok M, Jakarta, mengatakan ketertarikannya muncul karena proses memotret menggunakan kamera film terasa lebih menantang dibandingkan kamera digital. Ia juga menikmati sensasi mencari kamera bekas yang memiliki karakter berbeda-beda.

“Aku suka kamera analog karena prosesnya lebih seru. Kita enggak bisa langsung lihat hasilnya, jadi harus benar-benar mikir sebelum memotret. Biasanya aku juga suka hunting kamera bekas di Blok M, karena ada kepuasan tersendiri ketika menemukan kamera yang cocok dan masih bisa dipakai,” ujar Salsabila.

BACA JUGA:Tetap Eksis di Era Digital, Piringan Hitam Sukses Jadi Barang Mewah Baru Anak Muda

BACA JUGA:Canggih Tapi Mahal! 'Kulkas Manusia' Jepang Dibanderol Rp140 Jutaan

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari gaya hidup baru. Anak muda mulai mengoleksi kamera film, menggunakan kamera sekali pakai, mencetak hasil jepretan, hingga menyusun album foto bersama teman dan keluarga. Aktivitas yang membutuhkan proses tersebut menjadi alternatif dari budaya digital yang serba instan.

Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi layar, fotografi analog juga menawarkan kesempatan bagi anak muda untuk mengambil jeda dari media sosial. Memotret tidak lagi hanya bertujuan menghasilkan konten untuk diunggah, tetapi menjadi aktivitas yang dapat dinikmati tanpa harus memikirkan jumlah likes, komentar, maupun respons dari pengguna lain.

Fenomena ini dapat dikaitkan dengan konsep “ruang ketiga” yang diperkenalkan sosiolog Ray Oldenburg. Ruang ketiga merupakan tempat di luar rumah dan lingkungan kerja yang memungkinkan seseorang berinteraksi, bertukar ide, serta membangun hubungan sosial secara langsung. Komunitas fotografi analog, toko kamera, hingga kegiatan berburu kamera bekas dapat menjadi ruang semacam itu bagi generasi muda.

Kebangkitan fotografi analog juga berjalan beriringan dengan meningkatnya minat terhadap berbagai produk budaya fisik. Tidak hanya kamera film, anak muda kini kembali tertarik pada piringan hitam, kaset, VHS, DVD, hingga berbagai bentuk media fisik lainnya yang sebelumnya dianggap kalah praktis dibandingkan layanan digital.

Daya tarik benda-benda tersebut terletak pada pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi digital. Ada proses memilih, menyentuh, menyimpan, dan merawat benda yang membuat seseorang merasa memiliki hubungan lebih personal dengan barang maupun kenangan yang dihasilkan.

BACA JUGA:Momen Paling Berkesan Piala Dunia 2026: Aksi Suporter Viral hingga Kisah Haru Para Bintang Lapangan

BACA JUGA:Makan di Kafe hingga Nongkrong, Ini Alasan Pengeluaran Gen Z di Jakarta Tembus Rp12 Juta

Dalam fotografi analog, pengalaman tersebut terasa sejak seseorang memasukkan rol film ke dalam kamera, menentukan objek, memilih sudut pengambilan gambar, hingga menekan tombol rana. Setelah itu, pengguna masih harus menunggu proses pencucian dan pencetakan film sebelum akhirnya mengetahui seperti apa hasil foto yang diambil.

Kategori :