Dikit-Dikit Berlindung di Balik Tameng Avoidant, Fenomena Self-Diagnosis Hubungan Remaja

Kamis 25-06-2026,12:33 WIB
Reporter : Lala Nabilah Chandra
Editor : Haidaroh

INFORADAR.ID- Belakangan ini media sosial diramaikan oleh berbagai istilah psikologi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah istilah avoidant attachment style.

Fenomena ini kini bergeser menjadi sebuah tren di mana banyak orang, terutama usia muda, dengan mudah melabeli diri mereka sendiri tanpa adanya diagnosis resmi dari ahli.

Akibatnya, istilah ini sering kali dijadikan alasan atau pembenaran untuk menghindari konflik dan tanggung jawab dalam sebuah hubungan romantis maupun pertemanan.

Banyak remaja yang kini menggunakan istilah tersebut sebagai perisai saat menghadapi masalah komunikasi dengan pasangannya.

BACA JUGA:Krisis Meritokrasi Pegawai Kurang Kompeten Lebih Cepat Naik Jabatan

BACA JUGA:Fenomena Kesulitan Mendapat Teman, Benarkah Karena Kita Kurang Asik?

Ketika situasi menuntut penjelasan atau penyelesaian masalah, mereka cenderung menarik diri dan berkilah bahwa tindakan tersebut adalah bawaan dari kepribadian mereka yang tidak suka konfrontasi.

Pola perilaku ini memicu kekhawatiran karena esensi dari penyelesaian masalah dalam hubungan menjadi kabur dan terhambat.

Para psikolog menilai bahwa maraknya penggunaan istilah medis atau psikologis secara sembarangan ini dipicu oleh paparan konten edukasi kesehatan mental yang masif di internet.

Sayangnya, informasi yang diterima sering kali hanya dipahami secara sepotong-sepotong tanpa mendalami makna yang sebenarnya.

BACA JUGA:Mengungkap Fakta di Balik Narasi Hidup Sudah Mulus dari Dulu

BACA JUGA:Hand Mixer yang Bagus: Tips Memilih dan Rekomendasi Terbaik!

Akibatnya, terjadilah fenomena self-diagnosis di mana seseorang merasa berhak melabeli dirinya hanya berdasarkan beberapa kecocokan gejala yang mereka baca di media sosial.

Kondisi ini tentu menimbulkan dampak negatif bagi dinamika hubungan interpersonal di kota-kota besar.

Pasangan dari orang yang mengaku avoidant ini sering kali merasa frustrasi karena selalu dihadapkan pada jalan buntu setiap kali ingin berbicara serius.

Kategori :