INFORADAR.ID – Pernahkah Anda mendapati kondisi wajah yang tiba-tiba terasa bengkak, sembap, atau tampak jauh lebih bulat dari biasanya saat pertama kali bangun di pagi hari?
Belakangan ini, fenomena perubahan bentuk visual pada area wajah tersebut tengah menjadi topik perbincangan yang sangat viral di berbagai platform media sosial dengan sebutan cortisol face.
Istilah ini kerap kali dikaitkan oleh netizen dengan tingkat stres yang berlebihan serta pola gaya hidup yang tidak sehat.
Di dalam dunia medis dan kesehatan, kondisi perubahan ini sejatinya berhubungan erat dengan bagaimana cara kerja respons alami tubuh manusia terhadap hormon stres utama, yaitu kortisol.
Ketika seseorang mengalami tekanan psikologis atau fisik secara konstan, produksi hormon ini akan meningkat drastis.
Tingginya kadar kortisol dalam jangka waktu panjang dapat memicu retensi cairan, sehingga area wajah tampak membulat, membengkak, dan kehilangan garis tegasnya.
Merujuk pada ulasan klinis dari pakar kesehatan Dr. Jolene Brighten, kortisol merupakan hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal.
Saat tubuh mendeteksi adanya ancaman atau tekanan, kortisol bertugas mengatur tekanan darah dan kadar gula.
Namun, jika hormon ini terus-menerus diproduksi tanpa adanya fase istirahat yang cukup, efek sampingnya akan mulai memengaruhi penampilan fisik luar secara signifikan.
Peningkatan kadar kortisol yang kronis tidak hanya memicu penumpukan jaringan lemak di area tertentu, tetapi juga mengganggu keseimbangan garam dan air di dalam jaringan tubuh.
Akibatnya, area wajah menjadi tempat yang paling rentan mengalami pembengkakan karena jaringan kulit dan pembuluh darah di sekitarnya cenderung menahan air (water retention) lebih banyak dari kondisi normal.
Fenomena cortisol face ini sejatinya menjadi sinyal peringatan dini (alarm otomatis) yang dikirimkan oleh tubuh agar kita mulai memperhatikan kesehatan mental.
Menurunkan pembengkakan pada wajah tidak bisa dilakukan hanya dengan perawatan luar atau kosmetik semata, melainkan harus dibarengi dengan perbaikan kualitas tidur, olahraga teratur, serta teknik pengelolaan stres yang tepat demi menjaga keseimbangan hormon internal.