Bagaimana kita bisa mempraktikkannya dalam laboratorium sosial kehidupan nyata?
Di Lingkungan Akademik & Sekolah: Guru dan dosen harus aktif membangun iklim kelas yang egaliter.
Meniru perspektif teoretis dari William B. Gudykunst tentang manajemen kecemasan/ketidakpastian, institusi pendidikan harus memperbanyak ruang kerja kelompok yang acak.
Tujuannya agar mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya dipaksa berinteraksi secara intensif untuk mengikis kecemasan dan stereotip.
Menenun Kembali Keberagaman
Rasisme sistemik hanya akan kehilangan kekuatannya jika kita, sebagai masyarakat, menolak untuk menormalisasinya.
Merawat keberagaman Indonesia yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak berarti kita harus meleburkan dan menghapus identitas kultural masing-masing menjadi seragam.
Menghargai perbedaan adalah seni menerima bahwa warna kulit yang berbeda, logat yang unik, dan sejarah yang beragam adalah kekayaan bersama.
Penulis: Najma Fitriani- UIN Banten