Kondisi ini diperparah oleh minimnya ruang diskusi antar-kelompok.
Banyak dari kita yang hanya "mengenal" saudara kita yang berbeda suku melalui narasi pihak ketiga, potongan berita sekilas, atau desas-desus.
Akibat kurangnya interaksi langsung, jarak sosial makin melebar, dan kesalahpahaman dipelihara.
Di era digital, media sosial kita dipenuhi oleh komedi berbasis rasial, meme yang menyudutkan logat daerah tertentu, hingga komentar-komentar diskriminatif yang dibungkus sebagai "candaan" atau dark jokes.
Proses inilah yang membuat masyarakat kehilangan kepekaan sosial, sehingga rasisme sistemik terus mendapatkan bahan bakarnya untuk tetap hidup.
Jembatan Teoretis: Menembus Batas Prasangka
Dalam studi komunikasi antarbudaya yang dirangkum oleh Alo Liliweri melalui bukunya ditegaskan bahwa hambatan terbesar dalam komunikasi masyarakat multikultural adalah kegagalan dalam mengelola kecemasan dan ketidakpastian saat bertemu dengan "orang asing".
Lebih jauh, jika kita mengaitkannya dengan pemikiran sosiolog Clifford Geertz mengenai primordialisme:
Ikatan darah dan kesukuan yang terlalu kaku tanpa dibarengi kesadaran sipil sering kali melahirkan sikap etnosentrisme.
Sikap ini menganggap kelompok sendiri lebih unggul dan memandang rendah kelompok lain.
Komunikasi Inklusif sebagai Solusi Membumi
Menghadapi rasisme sistemik yang sudah mengakar tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan hukum formal atau sekadar pembuatan aturan normatif yang gersang di atas kertas.
Solusi paling realistis harus dimulai dari tingkat akar rumput melalui pembenahan pola tutur kita sehari-hari.
Komunikasi inklusif bukan sekadar jargon tentang bagaimana berbicara dengan sopan atau menggunakan kata-kata yang halus.
Lebih dari itu, ia adalah sebuah kesadaran aktif untuk memilih kosakata yang tidak merendahkan, melunturkan stereotip
Membuka ruang setara bagi siapa saja untuk bersuara, tanpa memandang warna kulit, asal-usul, maupun logat bicara.