Namun, mari kita jujur: permintaan maaf yang disampaikan bukanlah akhir dari persoalan. Ia baru awal dari tafsir ulang. Dalam hermeneutika, teks lama memang bisa diberi makna baru. Tapi itu mensyaratkan satu hal: keberanian untuk tidak hanya meminta maaf, tetapi juga memutus tradisi yang keliru.
Kalau tidak, kita hanya akan mengulang siklus yang sama: menciptakan, menertawakan, viral, meminta maaf, lalu lupa.
Dan mungkin, di situlah masalah terbesarnya: bukan pada liriknya yang cabul, tetapi pada kesadaran yang terlalu nyaman untuk berubah.