Pada akhirnya, esai ini tidak hendak menghakimi siapa yang paling benar atau paling salah. Ia hanya mencoba membaca tanda-tanda zaman: bahwa masyarakat hari ini tidak lagi diam, bahwa kritik tidak lagi disampaikan dengan cara lama, dan bahwa pemimpin tidak lagi dinilai hanya dari apa yang mereka lakukan, tetapi juga dari bagaimana mereka hadir dalam kesadaran publik.
Jalan-jalan itu, dengan segala lubang dan genangannya, telah menjadi teks yang terbuka. Dan masyarakat, dengan kreativitas satirnya, telah menjadi penafsir yang tak bisa lagi diabaikan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah para pemimpin mendengar, tetapi apakah mereka bersedia memahami bahasa baru ini—bahasa yang lahir dari lumpur, dari lubang, dan dari tawa yang sedikit terlalu getir untuk disebut sekadar hiburan.