INFORADAR.ID – Screen time yang mencapai hingga sembilan jam per hari kini menjadi perhatian serius, terutama di kalangan generasi muda.
Aktivitas menatap layar secara berlebihan, baik untuk bekerja, belajar, maupun hiburan, dinilai berdampak pada kesehatan mental dan fisik, serta memengaruhi cara pandang anak muda terhadap karier dan kondisi finansial mereka.
Fenomena ini memicu munculnya seruan “Green Time”, sebuah ajakan untuk mengurangi ketergantungan pada gawai dan meningkatkan aktivitas di luar ruangan.
Anak muda mulai mendorong kebiasaan seperti berjalan di ruang terbuka hijau, berkebun, atau sekadar beristirahat tanpa layar sebagai upaya menjaga kesehatan mental dan mengurangi kelelahan digital.
BACA JUGA:Viral di Indonesia, Boygroup K-Pop “HAMIL” Tiba-tiba Umumkan Batal Debut
BACA JUGA:War Takjil dan Menu Paling Valid Versi Gen Z
Salah satu anak muda, Muhamad Al Fazri, pekerja kreatif lepas di Serang dan juga sebagai mahasiswa, mengaku tingginya screen time membuatnya cepat lelah secara mental. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan waktu hingga delapan sampai sembilan jam di depan layar.
“Awalnya nggak kerasa, tapi lama-lama capek sendiri. Mata perih, susah fokus, dan gampang stres. Sekarang aku sengaja nyempetin Green Time, kayak jalan sore tanpa bawa HP atau duduk di luar rumah,” ujarnya.
Di tengah tingginya paparan layar dan tekanan kerja, tren conscious unbossing juga semakin menguat. Tren ini menggambarkan sikap sadar anak muda yang enggan mengejar posisi sebagai bos atau jabatan tinggi.
BACA JUGA:Aurel Kena
BACA JUGA:Live Streaming Game Jadi Tambang Cuan
Banyak dari mereka memilih pekerjaan yang dianggap lebih seimbang, fleksibel, dan tidak terlalu menguras energi mental, meski harus mengorbankan peluang kenaikan jabatan atau penghasilan yang lebih besar.
Fazri menilai keputusan tersebut bukan karena malas, melainkan bentuk kesadaran akan batas kemampuan diri.
“Jadi bos memang kelihatannya keren, tapi tekanannya besar. Aku pribadi lebih milih kerja yang fleksibel. Walaupun penghasilannya nggak tetap, setidaknya kesehatan mental lebih terjaga,” katanya.
Namun, pilihan tersebut dihadapkan pada realitas ekonomi yang penuh ketidakpastian. Angka pengangguran yang disebut telah mencapai 17 persen menimbulkan kekhawatiran finansial, khususnya bagi generasi produktif. Minimnya lapangan kerja dan persaingan yang ketat membuat sebagian anak muda merasa cemas terhadap stabilitas ekonomi di masa depan.