“Kuliah memang bukan untuk menghasilkan uang, tapi belajar berpikir, melatih daya pikir, dan menajamkan daya kritis," ujarnya.
Ia menilai menikah muda adalah hak individu, namun menolak jika narasinya mendorong anak muda berhenti sekolah.
“Pernikahan bukan soal umur, tetapi kesiapan dan kapabilitasnya.”
Senada, mahasiswa UIN Banten, Melly Juwita lainnya menyebut perkuliahan memberikan manfaat luas yang tidak selalu terlihat dalam jangka pendek.
BACA JUGA:Konten Instagram Bahas Luka Batin Anak Berbakat, Netizen Ramai-Ramai Bilang “Relate”
BACA JUGA:Bukan Sekadar Tren, Remaja 17 Tahun Ini Jadi Penjaga Masa Depan Pangan Indonesia
“Kami tidak hanya mendapat ilmu sesuai jurusan, tapi pola pikir, cara memandang persoalan, dan relasi,” ucapnya.
Menurut Melly, pernikahan dini sah-sah saja bila dilakukan secara sadar dan siap, namun narasi mengajak orang berhenti sekolah dinilai berbahaya.
“Sayang ketika pengaruhnya justru mendorong perempuan berhenti belajar dan melihat nikah muda sebagai solusi cepat,” tambahnya.
Kontroversi Azkiave memunculkan polarisasi antara narasi kemandirian dan bisnis sejak muda versus pendidikan formal sebagai investasi jangka panjang. Perdebatan ini menegaskan pengaruh besar influencer terhadap pilihan hidup generasi Z, yang kini harus menimbang informasi digital dengan lebih kritis.
Hingga kini, diskusi publik seputar Azkiave belum mereda, sementara pemerintah dan pegiat pendidikan mengimbau masyarakat tetap mengedepankan literasi, kesiapan, dan perencanaan matang dalam memilih jalur hidup masing-masing.