Fenomena Joki Strava, Olahraga di Tengah Gengsi Media Sosial

Senin 14-07-2025,14:55 WIB
Reporter : Ghina Aulia Az-Zahra
Editor : Haidaroh

Olahraga pun berubah menjadi sebuah tontonan, bukan kebutuhan fisik.

Dampak Buruk dari Joki Strava

1. Mengurangi nilai sportivitas

Olahraga seharusnya tentang membangun kemampuan diri. Jika hasilnya dibuat palsu, semangat kompetisi yang sehat akan hilang.

3. Merusak kepercayaan dalam komunitas

Strava didasarkan pada keterbukaan dan dukungan antar pengguna. Memalsukan aktivitas bisa menimbulkan kecurigaan dan menurunkan rasa saling percaya.

4. Menimbulkan tekanan mental

Ketergantungan pada pengakuan eksternal untuk merasa berhasil dapat menimbulkan stres, rasa bersalah, dan kecemasan.

BACA JUGA:Jepang Dilanda Krisis Matcha: Produksi Seret, Harga Diperkirakan Melambung

BACA JUGA:Viral! Harga Tiket Konser JKT48 Kalahkan BLACKPINK, Apa Saja Fasilitasnya?

Bagaimana Cara Menyikapinya?

Penting untuk selalu mengingat bahwa tujuan utama olahraga adalah menjaga kesehatan jasmani dan rohani. 

Pengakuan di dunia maya tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan. Jika ingin merekam kemajuan, lakukan dengan jujur dan penuh kesungguhan.

Platform seperti Strava sebaiknya dijadikan alat motivasi dan evaluasi pribadi, bukan sebagai media untuk pencitraan semata. Kejujuran jauh lebih berharga daripada sekadar angka yang terlihat mengesankan.

Fenomena joki Strava menggambarkan adanya pergeseran nilai dalam budaya olahraga di era digital. Keaslian, konsistensi, dan komitmen adalah kunci pencapaian yang bermakna. 

Di tengah gempuran media sosial, kita perlu kembali pada tujuan sejati berolahraga, demi kesehatan, bukan demi popularitas.

Kategori :