Tingginya elektabilitas ini bisa jadi membentuk kepercayaan diri Anies, membuatnya yakin akan mendapatkan tiket Pilkada melalui dukungan NasDem, PKS, dan PKB. Itulah politik, selalu ada trik, dan intrik dalam politik yang penting kepentingannya diakomodir, Anies ditinggalkan, melamar ke PDIP hanya diberi “PHP” saat itu untuk menjadi calon di Jawa Barat. Akhirnya Predikat “political vagabond” atau gelandangan politik pada Anies Baswedan di lebelkan oleh para pengamat politik yang berbeda Haluan politiknya.
Istilah “political vagabond” atau gelandangan politik juga melekat pada beberapa politisi dan pengamat sosial politik, yang sebelumnya pernah menjabat jabatan politik atau penting, pada periode yang lalu baik sebagai Menteri, Anggota DPR, Komisaris, atau Direksi BMUN, dilebelkan pada mereka istilah ini, yang dianggap membuat “berisik” negeri ini. Beberapa nama, siapa saja yang diberi lebel tersebut dapat di simak pada beberapa saluran televisi, youtube dan acara-acara diskusi, dan pemberitaan pada media sosial. Umumnya mereka saat ini menjadi pengamat, nara sumber diberbagai acara, dan cenderung selalu mengkritisi kebijakan public, dan dianggap “berisik” membuat polusi ruang-ruang publik.
Mereka disebut oleh yang kontra maupun public khalayak media disebut diberi lebel gelandangan politik. Mereka cenderung berpindah-pindah dukungan berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok, tanpa mempertimbangkan prinsip atau nilai yang konsisten.
Sikap ini sering kali didorong oleh kepentingan pragmatis seperti mendapatkan keuntungan politik, ekonomi, atau sosial dalam jangka pendek.
Secara umum, gelandangan politik adalah orang-orang yang tidak merasa terikat pada satu partai politik atau ideologi, dan mereka tidak ragu untuk berpindah dukungan jika situasi menguntungkan mereka .
Implikasi Gelandangan Politik dalam demokrasi, keberadaan gelandangan politik dapat memiliki berbagai implikasi, baik positif maupun negatif, terhadap proses demokrasi dan stabilitas politik di suatu negara.
Menurut para ahli, hadirnya gelandangan politik (dalam konteks ini, kemungkinan merujuk pada individu atau kelompok yang tidak memiliki peran politik yang jelas atau terpinggirkan dari proses politik) di Indonesia dapat menimbulkan beberapa dampak yang signifikan, terutama terkait stabilitas sosial, politik, dan bahkan ekonomi. Dampak-dampak ini meliputi meningkatnya ketegangan sosial, potensi konflik, penurunan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, dan terhambatnya pembangunan.
Karena merasa terabaikan terpinggirkan dalam sistem politik, sehingga mereka mudah terprovokasi cenderung dengan pernyataan tuduhan-tuduhan yang mengganggu ketertiban sosial, dapat juga memicu terjadi konflik sosial diantara sesama warga.
BACA JUGA:Lowongan Kerja 2025: Peluang Karier Menjanjikan di Era Digital
BACA JUGA:Hidup Sehat Ala Ade Rai, Cuma Soal Niat?
Salah satu dampak negatif lainnya dari gelandangan politik adalah ketidakstabilan politik. Karena mereka cenderung berpindah-pindah dukungan, hal ini dapat menciptakan ketidakpastian dalam proses politik, terutama dalam pemilihan umum. Aliansi politik yang dibangun dengan gelandangan politik mungkin tidak bertahan lama, yang dapat menyebabkan perubahan yang sering dan tidak terduga dalam peta politik.
Hadir dan bermunculannya Gelandangan Politik ini akan menggangu kepercayaan public, ketika mereka melihat aktor politik utamanya bersikap seperti gelandangan berpindah dukungan tanpa alasan yang jelas. Publik akan skeptis terhadap motivasi politisi, bahwa Keputusan politik dibuat untuk kepentingan bersama.
Ketika publik melihat bahwa aktor-aktor politik utama bersikap seperti gelandangan politik, berpindah-pindah dukungan tanpa alasan yang jelas, hal ini dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap proses politik secara keseluruhan. Publik mungkin menjadi lebih skeptis terhadap motivasi politisi dan kurang percaya bahwa keputusan politik dibuat untuk kepentingan bersama.
Sebagai penutup tulisan ini saya mengutip pandangan Gusdur, “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.”#AS90625#.