Kurangnya transparansi dan penghargaan yang setimpal membuat banyak pekerja memilih untuk tidak berusaha lebih dari yang diminta.
3. Fokus pada Penghasilan daripada Jabatan
Gen Z cenderung lebih realistis, memilih pekerjaan yang stabil secara finansial dibandingkan ambisi naik jabatan yang menguras tenaga.
4. Tidak Terlalu Mementingkan Karier Jangka Panjang
Banyak di antara mereka yang lebih mengutamakan waktu untuk diri sendiri dan keluarga, daripada mengejar tangga karier yang tidak pasti.
Dampaknya bagi Dunia Kerja
Meningkatnya praktik silence quitting menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam dunia kerja mulai bergeser.
Perusahaan perlu menyikapi perubahan ini dengan lebih fleksibel, misalnya dengan menciptakan sistem kerja yang menghargai keseimbangan hidup dan menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi generasi muda saat ini.
Tanpa perubahan tersebut, perusahaan bisa kehilangan kepercayaan dan loyalitas dari pekerja muda kini lebih peka terhadap isu kesehatan mental dan hak kerja.
Berhenti diam bukan berarti malas bekerja, tapi lebih kepada menetapkan batasan yang sehat. Generasi Z di Jepang menunjukkan bahwa bekerja keras tidak harus mengorbankan waktu pribadi dan kesejahteraan mental.
Perusahaan perlu menyesuaikan diri dengan realitas baru ini agar tetap relevan dan mampu mempertahankan talenta muda yang berkualitas.