Quiet Quitting di Jepang: Kenapa Banyak Gen Z Memilih Bekerja Seadanya?
Ilustrasi Gen Z-Pinterest/Introvert-
INFORADAR.ID - Fenomena silence quitting sedang menjadi sorotan di Jepang, terutama di kalangan pekerja muda dari generasi Z.
Istilah tenang berhenti Merujuk pada sikap menjalankan pekerjaan sebatas tanggung jawab utama, tanpa terlibat lebih dalam tugas tambahan.
Bagi banyak anak muda di Jepang, Quiet Quiting adalah cara menjaga batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Dorongan untuk menghindari stres berlebihan membuat quitting yang tenang menjadi alternatif realistis di tengah tekanan dunia kerja modern.
Oleh karena itu, tak heran jika quitting semakin populer dan dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang terlalu menuntut.
BACA JUGA: Jurassic World Rebirth Tayang Juli 2025, Hadirkan Petualangan Baru Penuh Bahaya
BACA JUGA: Katat Prestasi Gemilang! Album Baru i-dle 'We Are' Tembus 1 Juta Penjualan dalam Sepekan
Memahami Konsep Quiet Quitting
Berhenti diam-diam bukan berarti seseorang benar-benar berhenti dari pekerjaannya. Istilah ini menggambarkan sikap profesional yang tetap menyelesaikan kewajiban kerja, tetapi tanpa mengambil inisiatif tambahan seperti lembur tanpa ketidakseimbangan atau mengejar promosi secara agresif.
Praktik ini biasanya dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap kesejahteraan diri sendiri, terutama di negara seperti Jepang yang memiliki reputasi dengan jam kerja panjang dan ekspektasi loyalitas tinggi terhadap perusahaan.
Alasan Gen Z Jepang Melakukan Quiet Quitting
Survei yang dilakukan oleh Mynavi menunjukkan beberapa alasan mengapa banyak pekerja muda di Jepang memilih menjalani quitting secara diam-diam.
1. Pekerjaan Tidak Sesuai Minat Pribadi
Banyak pekerja yang merasa posisi mereka saat ini tidak sejalan dengan tujuan hidup atau nilai yang mereka miliki.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
