Bila ada suatu kelompok yang belum ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT, atau mendapatkan giliran di atas, sebaiknya ini menjadikan instrospeksi, mengevaluasi diri, mempertanyakan How dan Why ini terjadi bukan dengan menyalahkan orang lain, atau mencari-cari kesalahan, menyerang memprovokasi, menghasut untuk menyerang kelompok lain dengan berbagai narasi ujaran yang tidak pantas. Harusnya menyadari ini kehendak takdir, belum mendapatkan kepercayaan dari yang Maha Kuasa, belajar ikhlas, bukan meninggikan sifat hasad atau kebencian.
Kemudian, apakah ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah--yang masih mempertimbangkan dan mementingkan identitas formal dan baju luar seseorang--lantas tidak diperlukan lagi? Tentu saja keduanya masih dibutuhkan. Tetapi, seseorang perlu berhati-hati, jangan sampai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah yang diekspresikannya terjatuh pada apa yang bisa diistilahkan sebagai “fanatisme” (juga “nasionalisme”) yang sempit dan picik.
Ukhuwah wathaniyah yang sempit juga bisa terjatuh pada apologi dan pembelaan seseorang yang tidak proporsional bagi bangsanya. Meskipun agama, mazhab, dan kebangsaannya sama dengan kita, jika seseorang berbuat salah dan zalim, harus kita kritik dan tunjukkan kesalahannya secara lugas, jujur, dan tegas.
Menurut Kamal Azis (1993:102), Islam mendasarkan hubungan manusia dan lingkungan alamnya pada kasih sayang dan penikmatan yang pantas. Artinya Islam memperlakukan manusia sebagai bagian dari bahan bumi dan menghubungkannya secara baik sekali dengan bumi. Ia tidak boleh menganiaya binatang, tak dizinkan menebang pohon kecuali untuk satu tujuan berguna, dan tak boleh merusak sumber daya alam, karena dunia adalah tempat kediamannya sehingga ia harus mengurusnya dengan baik.
Keaneka ragaman warna diantara benda-benda yang diciptakan di alam semesta adalah menifestasi kemahakuasaan Tuhan, dan bukan suatu alasan untuk menguntungkan satu makhluk dengan merugikan makhluk lainnya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 10:
Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Sebagai penutup tulisan ini, saya ketengahkan firman Allah yang menggambarkan misi Nabi (SAW) kepada umat manusia: “... yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka ...” (QS. 7:157).
Tak ada belenggu yang lebih berat bagi mereka selain diskriminasi berdasarkan warna kulit, agama, kepercayaan, keyakinan, golongan, budaya. Dan kami berdoa kepada Allah, kiranya apa yang telah kami tulis disini tentang keimanan dan pengetahuan akan membantu menunjukkan jalan ke cakrawala tinggi persaudaraan umat manusia, di mana tak ada lagi rasialisme ataupun perbedaan derajat diantara manusia selain dalam hal amal saleh, demi kebaikan seluruh umat manusia. Semoga Bangsa Indonesia selalu dijaga Allah SWT, persaudaraan dan persatuannya.#AS@
Sumber Bacaan:
Al Qur’an
Al Hadist
Azis Kamal, Abd. 1993. Islam dan Masalah Ras. Penerjemah: M.Hashem. Penyunting: Burhan Wirasubrata. Lentera. Jakarta.
https://www.beritasatu.com/archive/195510/3-konsep-persaudaraan. Kiai Maman Imanulhaq
"Kibarkan panji cinta sejati dan persaudaraan abadi."