Disway Award

Gelantungan di Atas Tebing Jadi Pelarian Gen Z dari Stres dan Kerumitan Hidup

Gelantungan di Atas Tebing Jadi Pelarian Gen Z dari Stres dan Kerumitan Hidup

Menggantungkan diri di atas tebing-Pinterest/Vale Encantado-

INFORADAR.ID - Tentang kesehatan mental selalu melahirkan fenomena baru di kalangan Generasi Z. Jika sebelumnya meditasi, journaling, atau staycation menjadi pilihan utama, kini sebagian Gen Z justru memilih cara yang lebih ekstrem yakni menggantungkan diri di atas tebing melalui aktivitas seperti zipline, flying fox, tarzan swing, hingga highlining. 

Fenomena tersebut kerap disebut sebagai “Extreme Stress Relief”, sebuah bentuk pelarian yang mengandalkan adrenalin untuk meredam kebisingan pikiran. Alih-alih mencari ketenangan dalam keheningan, Gen Z justru menemukan rasa damai saat berada di ketinggian. 

Aktivitas ekstrem tersebut dinilai mampu “memaksa” pikiran untuk berhenti memikirkan tekanan hidup sehari-hari. Secara psikologis, olahraga di ketinggian bekerja dengan mekanisme yang unik. Saat seseorang berada dalam situasi ekstrem, otak otomatis masuk ke mode bertahan hidup. 

Fokus hanya tertuju pada satu hal yaitu keselamatan di saat itu juga. Kondisi ini sering disebut sebagai mindfulness paksa, di mana pikiran tidak punya ruang untuk memikirkan masalah lain seperti pekerjaan, relasi, atau tekanan sosial.

Selain itu, tubuh melepaskan hormon adrenalin, dopamin, dan endorfin dalam jumlah besar. Setelah rasa takut mereda, muncul sensasi lega dan euforia yang membantu menekan kecemasan. Menaklukkan rasa takut terhadap ketinggian juga memberi efek psikologis berupa sense of control, yakni perasaan berdaya untuk menghadapi tantangan hidup di luar arena ekstrem.

BACA JUGA:UPG Bangkitkan Semangat Sportivitas Melalui Voli Ramadhan Championship

BACA JUGA:Liverpool Terpuruk di Posisi Enam, Kans Xabi Alonso Gantikan Arne Makin Terbuka

Beberapa aktivitas yang kini populer di kalangan Gen Z antara lain via ferrata, tarzan swing, hammocking di antara dua tebing, hingga highlining yang dikenal sebagai salah satu olahraga paling ekstrem di dunia. Tingkat adrenalin yang ditawarkan pun beragam, mulai dari ketenangan mental hingga risiko tinggi yang memacu nyali.

Debi Apriani, salah satu Gen Z yang mengamati fenomena ini, menilai bahwa tren “extreme healing” cukup relevan dengan kondisi generasinya saat ini. Ia mengatakan bahwa Gen Z hidup dalam tekanan notifikasi dan ekspektasi yang datang tanpa henti.

Menurut Debi, aktivitas ekstrem justru membantu otak “logout” dari masalah sehari-hari. “Pas lagi flying fox atau tarzan swing, otak tuh otomatis log out dari masalah duniawi. Pas lagi teriak di ketinggian, rasanya kayak semua beban ikut keluar lewat tenggorokan. It’s like hitting a manual reset button,” ujarnya.

Ia juga menilai ada paradoks menarik antara kecemasan dan adrenalin. Debi menjelaskan bahwa meski Gen Z sering merasa cemas terhadap hal-hal kecil, mereka justru sengaja mencari rasa takut yang ekstrem karena ketakutan tersebut memiliki akhir yang jelas.

“Takut di tebing itu ada ujungnya dan bikin kita ngerasa hidup lagi. Pas kaki napak tanah, masalah yang tadinya kelihatan segunung jadi kerasa lebih kecil,” kata Debi.

BACA JUGA:PSIM Yogyakarta Raih Satu Angka Dramatis Setelah Kejar Tiga Gol Lawan Bali United

BACA JUGA:Arsenal Hancurkan Tottenham 4-1 di Derby London Utara

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: