3. Kelesuan Industri Baja
Sektor baja yang selama ini menjadi konsumen utama batu bara kokas juga sedang mengalami perlambatan.
Penurunan produksi baja akibat turunnya permintaan dari sektor konstruksi dan manufaktur menyebabkan kebutuhan batu bara ikut berkurang. Dampaknya, harga komoditas ini semakin tertekan karena minimnya penyerapan pasar.
BACA JUGA:Infinix Note 50 Series Meluncur di Indonesia, Simak Spesifikasi dan Harganya
BACA JUGA:Bahaya GERD dan Asam Lambung, Ini 13 Jenis Makanan dan Minuman yang Sebaiknya Dihindari
4. Pelemahan Harga Batu Bara di Bursa Global
Harga batu bara yang diperdagangkan di ICE Newcastle terus menurun sepanjang 2025. Meskipun sempat mengalami kenaikan teknikal pada awal Mei, secara keseluruhan harga telah terkoreksi lebih dari 20% sejak awal tahun.
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, penurunannya bahkan mencapai lebih dari 30%. Ini mencerminkan lemahnya kepercayaan pasar terhadap prospek jangka pendek batu bara.
5. Dampak Negatif ke Ekonomi Wilayah Penghasil
Daerah penghasil batu bara seperti Kalimantan Timur ikut merasakan imbas dari anjloknya harga komoditas ini. Pendapatan daerah berkurang drastis, aktivitas ekonomi melambat, dan risiko PHK di sektor tambang meningkat. Tanpa solusi jangka panjang, kondisi ini bisa memicu gejolak ekonomi regional yang lebih luas.
Harga batu bara global tengah berada dalam tren penurunan tajam akibat kombinasi dari menurunnya permintaan, transisi ke energi bersih, dan pelemahan industri terkait seperti baja.
Indonesia, sebagai salah satu eksportir utama, perlu menyusun strategi untuk menghadapi perubahan pasar ini, termasuk memperkuat sektor lain yang lebih berkelanjutan.