Ruang tengah rumah bibinya itu sudah bersih. Tidak ada karpet yang ternoda air ketuban. Lantai ruangan juga kering. Tidak ada ceceran air ketuban.
Namun, Agisna melihat ada bekas telapak kaki berwarna hitam. Ukurannya sangat besar. Jauh melebihi ukuran kaki manusia.
Agisna ketakutan. Ketika melihat pintu dapur terbuka, Agisna lari sekencangnya. Dia menuju ke rumah Nek Ijah.
“Ada apa, kamu kenapa?” tanya Nek Ijah setelah membuka pintu rumahnya yang digedor Agisna.
Gadis kecil ini tidak menjawab. Lidahnya kelu. Wajahnya pucat. Matanya terus melihat ke arah pintu dapur rumah bibinya yang masih terbuka.
Agisna seolah tidak percaya dengan penglihatannya. Dia melihat Wini berdiri di depan pintu dapur rumahnya. Bibinya itu memakai baju warna pink.
Tapi, badan Wini kurus kering. Tidak seperti tubuh Wini yang gemuk layaknya wanita hamil.
Nek Ijah membawa Agisna masuk ke dalam rumah. Agisna bertanya-tanya, siapa yang berdiri di pintu dapur rumah bibinya itu. Dia tidak yakin jika itu Wini. Karena telah dibawa ke rumah sakit oleh suaminya.
Agisna tidak bisa tidur sampai pagi. Jam 05.30, dia kembali ke rumah Wini. Dia mau mengganti pakaiannya dengan seragam SD.
Di dalam rumah, Agisna tidak lagi melihat bekas telapak kaki berukuran sangat besar. Lantai rumah bersih.
Sore harinya, Wini pulang. Dia menggendong bayi lelaki yang baru dilahirkannya.
Suatu malam, jam 24.00, Agisna terbangun oleh suara tangisan bayi. Saat Agisna membuka matanya, sesosok hantu wanita dengan rambut awut-awutan berdiri di depannya. Hantu ini di luar jendela kamarnya yang tidak dilengkapi gorden.
Hantu wanita ini melotot kepada Agisna. Kedua tangan pucatnya diangkat ke samping kepalanya. Jari-jarinya bergerak-gerak. Seperti mencengkeram sesuatu.
Anehnya, Agisna tidak takut. Dia tetap tenang saat berjalan keluar dari kamarnya. Dia menghampiri bayi bibinya untuk didiamkan.
Ketika bayi Wini berusia 7 hari, acara syukuran digelar. Tokoh agama dan para tetangga mendoakan bayi sambil mencukur rambutnya.
Wini dan suaminya bahagia. Mereka bisa mengakikahkan anaknya.