3 Red Flag Pertemanan yang Sering Dianggap Sepele, Tapi Bisa Bikin Kamu Lelah Emosional

3 Red Flag Pertemanan yang Sering Dianggap Sepele, Tapi Bisa Bikin Kamu Lelah Emosional

Red Flag Pertemanan yang Sering Dianggap Sepele--

INFORADAR.ID - Pertemanan seharusnya menjadi ruang untuk saling mendukung, bukan hubungan yang membuat salah satu pihak terus merasa terkuras. Jika kamu sering merasa hanya dicari ketika dibutuhkan, selalu menjadi tempat curhat, atau pengalamanmu kerap dibandingkan dengan masalah teman, kondisi tersebut bisa menjadi tanda hubungan Pertemanan yang perlu dievaluasi.

Saling membantu memang menjadi bagian normal dalam persahabatan. Namun, hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik agar kedua pihak sama-sama merasa dihargai dan diperhatikan.

Penelitian 2019 yang dipublikasikan dalam Journal of Research on Adolescence mengamati lebih dari 950 remaja di 41 kelas untuk melihat kaitan antara perilaku saling membantu dan kualitas persahabatan. Hasilnya menunjukkan bahwa bantuan yang bersifat timbal balik berperan penting dalam mempertahankan hubungan pertemanan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, ketika seseorang hanya datang saat membutuhkan pertolongan, hubungan dapat terasa lebih transaksional. Jika pola tersebut terus berulang, kamu mungkin mulai merasa bukan sebagai sahabat, melainkan sekadar orang yang selalu siap membantu.

1. Red flag pertama adalah pertemanan yang terasa satu arah.

Teman terus meminta bantuan atau dukungan, tetapi jarang menunjukkan perhatian ketika kamu sedang membutuhkan mereka. Padahal, persahabatan bukan sekadar tentang siapa yang paling sering membantu, melainkan tentang adanya ruang untuk memberi dan menerima.

BACA JUGA:Dari Pangan Desa ke FYP, Kimpul Mendadak Viral

BACA JUGA:Gen Z Mulai Lirik Profesi Blue-Collar di Tengah Ancaman AI, Gajinya Bisa Tembus Rp5 Miliar

2. Red flag kedua, kamu selalu menjadi tempat curhat tanpa pernah benar-benar didengarkan.

Menjadi pendengar bagi teman yang sedang menghadapi masalah tentu merupakan bentuk kepedulian. Namun, jika hampir setiap percakapan selalu berisi persoalan mereka dan tidak pernah ada ruang untuk menanyakan keadaanmu, hubungan tersebut berpotensi membuatmu kelelahan secara emosional.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Communication Quarterly mengamati 82 percakapan nyata antara teman, anggota keluarga, maupun pasangan. Studi tersebut melihat bagaimana seseorang yang mendengarkan cerita emosional dapat ikut merasakan tekanan dari proses tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar rasa tanggung jawab pendengar terhadap emosi lawan bicara dan semakin lama mereka mendengarkan, semakin tinggi pula tekanan emosional yang dapat dirasakan. Artinya, terus menjadi tempat pelampiasan emosi tanpa dukungan timbal balik dapat menguras energi emosional.

3. Red flag ketiga adalah kebiasaan meremehkan atau membandingkan pengalamanmu.

Misalnya, ketika kamu sedang bercerita tentang masalah, teman justru langsung mengatakan bahwa masalah mereka jauh lebih berat. Alih-alih merasa dipahami, kamu akhirnya merasa pengalamanmu tidak cukup penting untuk didengarkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: