Teater Orang-Orang yang Merasa Paling Dizalimi
Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
Oleh Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta
INFORADAR.ID - Di negeri yang kaya akan drama, kadang-kadang pengadilan kalah ramai dibandingkan panggung komentar. Hakim belum mengetuk palu, tetapi vonis sudah bertebaran di mana-mana. Bukti masih diperiksa, namun keyakinan telah dipaku kuat di kepala masing-masing. Hal paling menarik, bukan perkara hukumnya, melainkan pertunjukan para pemainnya.
Kita hidup di zaman ketika sebagian orang lebih percaya pada mikrofon daripada cermin. Mereka gemar berbicara, tetapi jarang bercermin. Mereka rajin menuduh, tetapi malas mengukur tuduhannya sendiri. Mereka mengaku pejuang kebenaran, tetapi sering lupa bahwa kebenaran bukanlah barang yang lahir dari teriakan paling keras.
Dalam kisah yang belakangan ramai diperbincangkan, tuduhan demi tuduhan dilontarkan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Berbagai panggung digunakan. Kamera menjadi saksi. Media sosial menjadi pengeras suara. Dugaan dijadikan kepastian. Kecurigaan diperlakukan sebagai fakta. Seolah-olah hukum tidak lagi memerlukan pembuktian karena keyakinan pribadi dianggap sudah cukup menggantikannya.
Padahal dalam peradaban yang sehat, fitnah bukan sekadar kesalahan ucapan. Fitnah adalah pencurian. Ia mencuri nama baik. Ia mencuri ketenangan keluarga. Ia mencuri kehormatan seseorang. Yang dicuri memang tidak tampak seperti dompet atau sepeda motor, tetapi luka yang ditinggalkannya sering kali lebih dalam dan lebih lama sembuh.
Menariknya, ketika pihak yang dituduh memilih menempuh jalur hukum, sebagian orang justru terkejut. Mereka seperti heran mengapa ada orang yang memilih pengadilan dibandingkan adu mulut. Padahal itulah inti negara hukum. Jika merasa benar, buktikan di depan hukum. Jika merasa dirugikan, gunakan mekanisme hukum. Jika memiliki bukti, serahkan kepada lembaga yang berwenang.
Namun kita memang sedang hidup dalam zaman yang unik. Banyak orang menganggap dirinya pejuang demokrasi selama berbicara bebas. Tetapi ketika harus mempertanggungjawabkan ucapannya secara hukum, tiba-tiba demokrasi dianggap sedang sakit.
Mereka yang kemarin begitu berani menuding, hari ini mengaku sebagai korban. Mereka yang kemarin lantang menuduh, hari ini mengeluhkan perlakuan yang tidak adil. Mereka yang kemarin meminta orang lain membuktikan dirinya, kini keberatan ketika diminta membuktikan tuduhannya sendiri.
Barangkali inilah salah satu penyakit terbesar manusia modern: selalu merasa menjadi tokoh utama dalam kisah penderitaan.
Dalam psikologi ada kecenderungan yang dikenal sebagai self-serving bias, yaitu kebiasaan menilai diri sendiri dengan standar yang lebih lunak daripada menilai orang lain. Ketika berhasil, kita menganggap itu hasil kecerdasan. Ketika gagal, kita menyalahkan keadaan. Ketika menuduh orang lain, kita menyebutnya kritik. Ketika dituntut atas tuduhan itu, kita menyebutnya kriminalisasi.
Padahal hukum tidak bekerja berdasarkan perasaan. Hukum tidak bertanya siapa yang paling keras berteriak. Hukum tidak menghitung jumlah pengikut. Hukum tidak menimbang banyaknya tayangan video. Hukum bekerja berdasarkan bukti, prosedur, dan pertanggungjawaban.
Sayangnya, sebagian masyarakat lebih mencintai sensasi daripada substansi. Mereka menikmati konflik seperti menikmati serial televisi. Setiap perkembangan kasus ditunggu bukan untuk mencari pelajaran, melainkan mencari hiburan. Setiap sidang dianggap episode baru. Setiap pernyataan pengacara menjadi bahan tontonan.
Akibatnya, perkara hukum berubah menjadi industri emosi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: