Teater Orang-Orang yang Merasa Paling Dizalimi
Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, FISIP, Untirta-Ilustrasi by AI-
Yang benar belum tentu disukai. Yang salah belum tentu dibenci. Yang penting menarik perhatian.
Di sinilah filsafat lama kembali relevan. Socrates pernah mengingatkan bahwa kehidupan yang tidak diperiksa adalah kehidupan yang tidak layak dijalani. Sayangnya, banyak orang memilih memeriksa kehidupan orang lain daripada memeriksa dirinya sendiri.
Kita begitu sibuk mencari kesalahan orang lain hingga lupa menghitung kesalahan sendiri. Padahal sebelum menunjuk seseorang dengan satu jari, ada tiga jari lain yang mengarah kembali kepada diri kita.
Mungkin itulah sebabnya kebijaksanaan selalu lahir dari kerendahan hati. Orang bijak tahu bahwa dirinya bisa salah. Orang bijak memahami bahwa keyakinan tidak sama dengan fakta. Orang bijak menyadari bahwa dugaan tidak identik dengan kebenaran.
Sebaliknya, kesombongan sering menyamar sebagai keberanian.
Ia membuat seseorang merasa memiliki hak untuk menuduh tanpa batas. Ia membuat seseorang merasa kebal terhadap konsekuensi. Ia membuat seseorang yakin bahwa setiap pendapatnya otomatis adalah kebenaran.
Lalu ketika kenyataan datang mengetuk pintu, ia terkejut.
Padahal hukum hanyalah cermin yang memantulkan kembali apa yang pernah kita lakukan.
Jika selama ini seseorang gemar melempar tuduhan, jangan heran bila suatu hari ia diminta mempertanggungjawabkan tuduhan itu. Jika selama ini seseorang gemar menghakimi, jangan terkejut bila suatu saat ia sendiri diperiksa. Bukan karena dunia tidak adil, melainkan karena setiap tindakan memang memiliki akibat.
Filsuf Yunani kuno menyebutnya sebagai hukum sebab-akibat moral. Dalam tradisi Nusantara dikenal sebagai hukum tabur-tuai. Apa pun istilahnya, pesannya sama: kata-kata juga memiliki konsekuensi.
Karena itu, pelajaran terbesar dari berbagai drama semacam ini sesungguhnya sangat sederhana. Jangan tergesa-gesa menjadikan prasangka sebagai fakta. Jangan mengubah dugaan menjadi dakwaan. Jangan menganggap mikrofon lebih tinggi daripada pengadilan. Dan yang terpenting, jangan merasa diri sebagai pejuang keadilan jika pada saat yang sama tidak bersedia menghormati proses hukum.
Sebab keadilan bukanlah ketika keputusan selalu sesuai keinginan kita. Keadilan adalah kesediaan menerima proses, bahkan ketika hasilnya tidak sesuai harapan.
Pada akhirnya, sejarah sering kali tidak mengingat siapa yang paling keras berteriak. Sejarah lebih menghargai siapa yang mampu menjaga akal sehat ketika keramaian kehilangan arah.
Dan dalam dunia yang semakin bising ini, kemampuan untuk menghormati fakta mungkin telah menjadi bentuk keberanian yang paling langka
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: